A.
Judul Proposal Penelitian
ANALISIS KESALAHAN EJAAN PADA MAJALAH DINDING SISWA MAN 2 PAMEKASAN
B. Konteks Penelitian
Bahasa adalah alat komunikasi sebagai alat
komunikasi, bahasa dapat di pakai untuk mengekspresikan perasaan dan pikiran terletak pada seberapa jauh suatu
ekspresi itu “dapat di ukur”, berkemungkinan jadi bahasa perasaan karena
menyangkut suasana hati seseorang. dapat dikatakan, bahasa pikiran adalah
bahasa faktual, yang terlihat dan teraba ruangan ini berukuran 4x3 meter
merupakan contoh bahasa pikiran.
Karena bahasa di gunakan untuk mengungkapkan
perasaan, bahasa sesungguhnya mewakili keinginan, harapan, dan bahkan impian
manusia. bahasa merupakan satu diantara aspek kebudayaan artinya bahasa
merupakan bagian dari perilaku dan aktifitas hidup individu. [1]
Secara umum, bahasa memiliki peran sentral
dalam perkembangan intelektual, sosial, dan emosional peserta didik. Bahasa
juga merupakan penunjang keberhasilan dalam mempelajari semua bidang studi.
Pembelajaran bahasa diharapkan dapat membantu peserta didik mengenal diri,
budaya, dan budaya orang lain, mengemukakan gagasan dan perasaannya,
berpartisipasi dalam masyarakat yang menggunakan bahasa tersebut, dan menemukan
serta menggunakan kemampuan analitis dan imaginatif yang ada dalam dirinya
(Efendy, 2008: 316). [2]
Bahasa adalah yang paling baik dalam
menunjukkan identitas kultural suatu bangsa. Dengan kata lain bahasa
menunjukkan bangsa. Itu sebabnya penting bangsa Melanesia melestarikan sekitar
250 bahasa etnisnya dari arus besar dominasi ‘bahasa indonesia’. [3]
Bahasa adalah satu-satunya milik manusia yang
tidak pernah lepas dari segala kegiatan dan gerak manusia, sepanjang keberadaan
manusia itu sebagai makhluk yang berbudaya dan bermasyarakat, karena
keterkaitan dan keterikatan manusia dengan bahasa, dan kehidupan manusia pun
akan terus berubah dan tidak tetap, maka bahasa pun menjadi ikut berubah,
menjadi tidak tetap, tidak statis. Karena itulah disebut dinamis.[4]
Tarigan (2008: 21) menyatakan bahwa menulis
adalah melukiskan lambang-lambang grafis yang menggambarkan suatu bahasa yang
dipahami oleh seseorang sehingga orang lain dapat membaca lambang-lambang grafis
tersebut kalau akan memahami pesan yang dimaksud oleh penulisnya. Tidak hanya
pesan tersurat, tetapi juga pesan tersirat.
Fungsi utama dari tulisan ialah sebagai alat
komunikasi yang tidak langsung. menulis merupakan cara yang dipakai oleh
seseorang untuk menyampaikan ide, pikiran, atau perasaan melali lambang-lambang
grafis. Menulis dapat membantu seseorang untuk mengungkapkan pikiran kritisnya
juga memudahkan seseorang untuk menikmati dan merasakan hubungan-hubungan
dengan orang lain melalui media tulisan.[5]
Ejaan bahasa Indonesia menggunakan aksara
latin, yang terdiri dari 26 huruf. Setiap huruf diguankan untuk melambangkan
satu bunyi atau satu fonem; kecuali gabungan huruf kh, ng, ny, dan sy yang digunakan untuk
melambnagkan satu bunyi; da hruruf e di yang diguanakan untuk
melambangkan dua buah bunyi. Sementara huruf q dan x hanya digunakan pada kata
serapan tertentu.[6]
Ejaan ialah pelambangan fonem dengan huruf
(J.S. Badudu, 1984: 31). Ejaan didasarkan pada konvensi semata –mata. Artinya,
lahirnya ejaan tersebut dari hasil persetujuan pemakai bahasa yang
bersangkutan. Ejaan tersebut disusun oleh panitia yang terdiri dari beberapa
ahli bahasa, kemudian disahkan atau di resmikan oleh pemerintah. Masyarakat
pemakai bahasa mematuhi apa yang telah di tetapkan.
Persoalan ejaan bukanlah masalah yang sukar.
Sekali kita menguasai cara menuliskan
kata atau kalimat dengan baik, seharusnya kita tidak akan membuat
kesalahan-kesalahan. Oleh sebab itu, kiat di tuntut untuk memberikan perhatian
terhadap cara penulisan yang benar, apalagi bila pekerjaan kita dalam bidang
tulis-menulis. Tanpa mempelajarinya dengan baik, kita tidak akan pernah
menguasainya dengan baik pula.
Ejaan yang dipakai di indonesia sekarang ini
adalah ejaan bahasa indonesia yang di sempurnakan (EBIYD) atau sering disingkat
EYD. Ejaan tersebut disusun oleh lembaga bahasa nasional (LBN) dan disahkan
oleh pemerintah pada tahun 1972. LBN tersebut telah dilebur ke dalam sebuah
lembaga baru yang di sebut pusat pembinaan dan pengembangan bahasa. Sekarang
lembaga tersebut bernama pusat bahasa.
Bahasa yang salah kaprah banyak kita jumpai
dalam pemakaian bahasa dewasa ini. Hal itu terjadi karena pemakaian bahasa yang
bersangkutan sebenarnya tidak tahu secara pasti mengapa ia memilih bentuk kata
seperti itu. Mungkin ia meniru penggunaan bentuk kata orang lain karena ia
tertarik akan berbentuk itu, tanpa menyadari bahwa pilihannya itu salah. Bahasa
(bentuk kata) yang banyak penyimpangannya dari kaidah yang berlaku, yang tidak
bersistem, yang kacau, dan yang tidak efektif bukanlah bahasa (bentuk kata)
yang baik.[7]
Ejaan adalah keseluruhan peraturan
melambangkan bunyi ujaran dan hubungan antara lambang-lambang itu (pemisahan
dan penggabungannya dalam suatu bahasa). Secara teknis, ejaan ialah penulisan
huruf, penulisan kata, dan pemakaian tanda baca (Arifin, 2008: 164). [8]
Ejaan sering disebut ortografi. Ejaan yang
digunakan dalam bahasa Indonesia saat ini dikenal dengan sebutan ejaan yang
disempurnakan (EYD) sebelumnya ada ejaan Ch. A. Van Ophuijsen (1901), ejaan
Suwandi (1947), dan ejaan 1966. Ejaan yang disempurnakan ini berlaku sejak
tahun 1972 dan kini mengalami penyempurnaan yang telah dilakukan oleh Badan
Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Penyempurnaan tersebut menghasilkan naskah yang pada tahun 2015 telah
ditetapkan menjadi Peraturan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 50
Tahun 2015 tentang Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI).[9]
C. Fokus Penelitian
Untuk mempermudah
kajian dan pembahasan penelitian ini, maka peneliti merumuskan fokus
penelitiannya sebagai berikut:
1.
Bagaimana bentuk kesalahan pemakaian huruf
kapital pada majalah dinding siswa di MTS Negeri Parteker II Pamekasan?
2.
Bagaimana bentuk kesalahan ejaan penulisan
pada majalah dinding siswa di MTS Negeri Parteker II Pamekasan?
3.
Bagaimana kesalahan pemakaian tanda baca pada
majalah dinding siswa di MTS Negeri Parteker II Pamekasan?
D. Tujuan Penelitian
Berdasarkan pada
fokus penelitian di atas, maka peneliti ini dilakukan dengan tujuan:
1.
Mendeskripsikan bentuk kesalahan pemakaian huruf
kapital pada majalah dinding siswa di MTS Negeri Parteker II Pamekasan.
2.
Mendeskripsikan bentuk kesalahan ejaan
penulisan kata pada majalah dinding siswa di MTS Negeri Parteker II Pamekasan.
3.
Mendeskripsikan kesalahan pemakaian tanda baca
pada majalah dinding siswa di MTS Negeri Parteker II Pamekasan.
[1]Dadan Suwarna, Cerdas Berbahasa Indonesia: Berbahasa dengan Pemahaman
dan Pendalaman, (Tangerang: Jelajah Nusa, 2012), hlm. 1.
[2]Dian Nur Prawisti, “Analisis Kesalahan Penulisan Ejaan pada Karangan Siswa
Kelas VII SMP N 2 Depok.” Pendidikan Bahasa dan Sastra, 4(Juli, 2012)
hlm, 1.
[3]Moh. Hafid Effendy, Kasak-kusuk Bahasa Indonesia, (Surabanya: CV.
Salsabila Putra Pratama, 2015), hlm. 45.
[4]Prima Gusti yanti dkk, Bahasa Indonesia Konsep Dasar dan Penerapan,
(Jakarta: Kompas Gramedia, 2016), hlm. 33.
[5]Ibid, hlm. 161.
[6]Abdul
Chaer, Bahasa Jurnalistik, (Jakarta: PT: Rineka Cipta, 2010), hlm. 97.
[7]St. Y. Slamet, Problematika Berbahasa Indonesia dan Pembelajarannya,
(Yogyakarta: Graha Ilmu, 2014), hlm. 85-86.
[8]Puji Anto dkk, “Perancangan Buku Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia
sebagai Media Pembelajaran Ejaan di Sekolah.” Jurnal Desain, 2 (Januari,
2017) hlm, 94.
[9]Muammar Reza Qhadafi, “Analisis Kesalahan Penulisan Ejaan yang
Disempurnakan dalam Teks Negosiasi Siswa SMA Negeri 3 Palu,” Jurnal Bahasa
dan Sastra, 4 (2018) hlm, 1.