Wednesday, 20 March 2019

ANALISIS KESALAHAN EJAAN PADA MAJALAH DINDING SISWA MAN 2 PAMEKASAN


A.    Judul Proposal Penelitian
ANALISIS KESALAHAN EJAAN PADA MAJALAH DINDING SISWA MAN 2 PAMEKASAN

B.     Konteks Penelitian
Bahasa adalah alat komunikasi sebagai alat komunikasi, bahasa dapat di pakai untuk mengekspresikan perasaan dan  pikiran terletak pada seberapa jauh suatu ekspresi itu “dapat di ukur”, berkemungkinan jadi bahasa perasaan karena menyangkut suasana hati seseorang. dapat dikatakan, bahasa pikiran adalah bahasa faktual, yang terlihat dan teraba ruangan ini berukuran 4x3 meter merupakan contoh bahasa pikiran.
Karena bahasa di gunakan untuk mengungkapkan perasaan, bahasa sesungguhnya mewakili keinginan, harapan, dan bahkan impian manusia. bahasa merupakan satu diantara aspek kebudayaan artinya bahasa merupakan bagian dari perilaku dan aktifitas hidup individu. [1]
Secara umum, bahasa memiliki peran sentral dalam perkembangan intelektual, sosial, dan emosional peserta didik. Bahasa juga merupakan penunjang keberhasilan dalam mempelajari semua bidang studi. Pembelajaran bahasa diharapkan dapat membantu peserta didik mengenal diri, budaya, dan budaya orang lain, mengemukakan gagasan dan perasaannya, berpartisipasi dalam masyarakat yang menggunakan bahasa tersebut, dan menemukan serta menggunakan kemampuan analitis dan imaginatif yang ada dalam dirinya (Efendy, 2008: 316). [2]
Bahasa adalah yang paling baik dalam menunjukkan identitas kultural suatu bangsa. Dengan kata lain bahasa menunjukkan bangsa. Itu sebabnya penting bangsa Melanesia melestarikan sekitar 250 bahasa etnisnya dari arus besar dominasi ‘bahasa indonesia’. [3]
Bahasa adalah satu-satunya milik manusia yang tidak pernah lepas dari segala kegiatan dan gerak manusia, sepanjang keberadaan manusia itu sebagai makhluk yang berbudaya dan bermasyarakat, karena keterkaitan dan keterikatan manusia dengan bahasa, dan kehidupan manusia pun akan terus berubah dan tidak tetap, maka bahasa pun menjadi ikut berubah, menjadi tidak tetap, tidak statis. Karena itulah disebut dinamis.[4]
Tarigan (2008: 21) menyatakan bahwa menulis adalah melukiskan lambang-lambang grafis yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami oleh seseorang sehingga orang lain dapat membaca lambang-lambang grafis tersebut kalau akan memahami pesan yang dimaksud oleh penulisnya. Tidak hanya pesan tersurat, tetapi juga pesan tersirat.
Fungsi utama dari tulisan ialah sebagai alat komunikasi yang tidak langsung. menulis merupakan cara yang dipakai oleh seseorang untuk menyampaikan ide, pikiran, atau perasaan melali lambang-lambang grafis. Menulis dapat membantu seseorang untuk mengungkapkan pikiran kritisnya juga memudahkan seseorang untuk menikmati dan merasakan hubungan-hubungan dengan orang lain melalui media tulisan.[5]
Ejaan bahasa Indonesia menggunakan aksara latin, yang terdiri dari 26 huruf. Setiap huruf diguankan untuk melambangkan satu bunyi atau satu fonem; kecuali gabungan huruf kh, ng, ny,  dan sy yang digunakan untuk melambnagkan satu bunyi; da hruruf e di yang diguanakan untuk melambangkan dua buah bunyi. Sementara huruf q dan x hanya digunakan pada kata serapan tertentu.[6]
Ejaan ialah pelambangan fonem dengan huruf (J.S. Badudu, 1984: 31). Ejaan didasarkan pada konvensi semata –mata. Artinya, lahirnya ejaan tersebut dari hasil persetujuan pemakai bahasa yang bersangkutan. Ejaan tersebut disusun oleh panitia yang terdiri dari beberapa ahli bahasa, kemudian disahkan atau di resmikan oleh pemerintah. Masyarakat pemakai bahasa mematuhi apa yang telah di tetapkan.
Persoalan ejaan bukanlah masalah yang sukar. Sekali kita menguasai  cara menuliskan kata atau kalimat dengan baik, seharusnya kita tidak akan membuat kesalahan-kesalahan. Oleh sebab itu, kiat di tuntut untuk memberikan perhatian terhadap cara penulisan yang benar, apalagi bila pekerjaan kita dalam bidang tulis-menulis. Tanpa mempelajarinya dengan baik, kita tidak akan pernah menguasainya dengan baik pula.
Ejaan yang dipakai di indonesia sekarang ini adalah ejaan bahasa indonesia yang di sempurnakan (EBIYD) atau sering disingkat EYD. Ejaan tersebut disusun oleh lembaga bahasa nasional (LBN) dan disahkan oleh pemerintah pada tahun 1972. LBN tersebut telah dilebur ke dalam sebuah lembaga baru yang di sebut pusat pembinaan dan pengembangan bahasa. Sekarang lembaga tersebut bernama pusat bahasa.
Bahasa yang salah kaprah banyak kita jumpai dalam pemakaian bahasa dewasa ini. Hal itu terjadi karena pemakaian bahasa yang bersangkutan sebenarnya tidak tahu secara pasti mengapa ia memilih bentuk kata seperti itu. Mungkin ia meniru penggunaan bentuk kata orang lain karena ia tertarik akan berbentuk itu, tanpa menyadari bahwa pilihannya itu salah. Bahasa (bentuk kata) yang banyak penyimpangannya dari kaidah yang berlaku, yang tidak bersistem, yang kacau, dan yang tidak efektif bukanlah bahasa (bentuk kata) yang baik.[7]
Ejaan adalah keseluruhan peraturan melambangkan bunyi ujaran dan hubungan antara lambang-lambang itu (pemisahan dan penggabungannya dalam suatu bahasa). Secara teknis, ejaan ialah penulisan huruf, penulisan kata, dan pemakaian tanda baca (Arifin, 2008: 164). [8]
Ejaan sering disebut ortografi. Ejaan yang digunakan dalam bahasa Indonesia saat ini dikenal dengan sebutan ejaan yang disempurnakan (EYD) sebelumnya ada ejaan Ch. A. Van Ophuijsen (1901), ejaan Suwandi (1947), dan ejaan 1966. Ejaan yang disempurnakan ini berlaku sejak tahun 1972 dan kini mengalami penyempurnaan yang telah dilakukan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Penyempurnaan tersebut menghasilkan naskah yang pada tahun 2015 telah ditetapkan menjadi Peraturan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 50 Tahun 2015 tentang Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI).[9]

C.    Fokus Penelitian
Untuk mempermudah kajian dan pembahasan penelitian ini, maka peneliti merumuskan fokus penelitiannya sebagai berikut:
1.        Bagaimana bentuk kesalahan pemakaian huruf kapital pada majalah dinding siswa di MTS Negeri Parteker II Pamekasan?
2.        Bagaimana bentuk kesalahan ejaan penulisan pada majalah dinding siswa di MTS Negeri Parteker II Pamekasan?
3.        Bagaimana kesalahan pemakaian tanda baca pada majalah dinding siswa di MTS Negeri Parteker II Pamekasan?

D.    Tujuan Penelitian
Berdasarkan pada fokus penelitian di atas, maka peneliti ini dilakukan dengan tujuan:
1.        Mendeskripsikan bentuk kesalahan pemakaian huruf kapital pada majalah dinding siswa di MTS Negeri Parteker II Pamekasan.
2.        Mendeskripsikan bentuk kesalahan ejaan penulisan kata pada majalah dinding siswa di MTS Negeri Parteker II Pamekasan.
3.        Mendeskripsikan kesalahan pemakaian tanda baca pada majalah dinding siswa di MTS Negeri Parteker II Pamekasan.



[1]Dadan Suwarna, Cerdas Berbahasa Indonesia: Berbahasa dengan Pemahaman dan Pendalaman, (Tangerang: Jelajah Nusa, 2012), hlm. 1.
[2]Dian Nur Prawisti, “Analisis Kesalahan Penulisan Ejaan pada Karangan Siswa Kelas VII SMP N 2 Depok.” Pendidikan Bahasa dan Sastra, 4(Juli, 2012) hlm, 1.
[3]Moh. Hafid Effendy, Kasak-kusuk Bahasa Indonesia, (Surabanya: CV. Salsabila Putra Pratama, 2015), hlm. 45.
[4]Prima Gusti yanti dkk, Bahasa Indonesia Konsep Dasar dan Penerapan, (Jakarta: Kompas Gramedia, 2016), hlm. 33.
[5]Ibid, hlm. 161.
[6]Abdul Chaer, Bahasa Jurnalistik, (Jakarta: PT: Rineka Cipta, 2010), hlm. 97.
[7]St. Y. Slamet, Problematika Berbahasa Indonesia dan Pembelajarannya, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2014), hlm. 85-86.
[8]Puji Anto dkk, “Perancangan Buku Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia sebagai Media Pembelajaran Ejaan di Sekolah.” Jurnal Desain, 2 (Januari, 2017) hlm, 94.
[9]Muammar Reza Qhadafi, “Analisis Kesalahan Penulisan Ejaan yang Disempurnakan dalam Teks Negosiasi Siswa SMA Negeri 3 Palu,” Jurnal Bahasa dan Sastra, 4 (2018) hlm, 1.