Wednesday, 20 March 2019

pengertian istilah filsafat


BAB I
PENDAHULUAN
1.      Latar Belakang
Istilah filsafat berasal dari bahasa arab “ falsafah” yang diarabisasi dari kata yunani, philoshopia. Kata ini terdiri dari atas dua kata, philo (cinta) atau philia (persahabatan, tertarik kepada) dan shopia (hikmah, kebijaksanaan, pengetahuan, keterampilan, pengalaman, praktis , interligensi). Dalam ency clopedia of philosophy disebutkan “ the greek work sophia is ordinary translated as ‘wisdom’and the compound philoshophia of from which philosophy deveris is translated as ‘the love’. Jadi menurut namanya, filsafat berarti cinta pada kebijakan atau kebenaran, atau ingin mencapai pandai, atau keinginan yang mendalam untuk menjadi bijak.
Secara sederhana filsafat ilmu terdiri dari dua kata, yaiu filsafat dan ilmu. Filsafat dapat diartikan sebagai berfikir bebas, radikal, dan berada pada tataran makna. Jadi secara harfiah tidak terlalu berbeda dengan sains.
2.      Rumusan Masalah
1.       Apa pengertian istilah filsafat?
2.      Apa pengertian filsafat ilmu?
3.      Apa saja signifikansi ilmu?
      3.    Tujuan Masalah 
                        1. untuk mengetahui istilah filsafat
                        2. untuk mengetahui pengertian filsafat ilmu
                        3. untuk mengetahui signifikansi ilmu







Pengantar filsafat Ilmu
A.    Filsafat: Istilah, Sejarah, dan Klasifikasi
1.      Istilah Filsafat
Istilah filsafat berasal dari bahasa arab “ falsafah” yang diarabisasi dari kata yunani, philoshopia. Kata ini terdiri dari atas dua kata, philo (cinta) atau philia (persahabatan, tertarik kepada) dan shopia (hikmah, kebijaksanaan, pengetahuan, keterampilan, pengalaman, praktis , interligensi). Dalam ency clopedia of philosophy disebutkan “ the greek work sophia is ordinary translated as ‘wisdom’and the compound philoshophia of from which philosophy deveris is translated as ‘the love’. Jadi menurut namanya, filsafat berarti cinta pada kebijakan atau kebenaran, atau ingin mencapai pandai, atau keinginan yang mendalam untuk menjadi bijak.
Lalu apa yang disebut bijak atau bijaksana? Ahmad tafsir dalam bukunya mengutip penjelasan tentang kata bijak atau bijaksana dengan” wisdom” ( terjemahan dari kata shopia), yang memiliki arti tidak saja pandai dalam bidang intelektual, akan tetapi meliputi lapangan mana saja yang menggambarkan inteligensia. Tukang kayu , misaknya dengan kemahirannya mampu membuat meja dan kursi dari paduan bahan-bahan seperti kayu, besi, dan plastik yang modifikasi hingga bernilai efektif dan esetik.
Kemudian yang mirip dengan kata shopia, yaitu sophist (kaus sofis). Istilah ini terkait orang-orang yunani sebelum socrates yang menyebut diri mereka sebagai cendekiawan. Mereka menjadikan persepsi manusia sebagai ukuran realitas dan menggunakan argumen-argumen yang keliru dalam kesimpulan mereka. Sehingga kata sofis mengalami dua reduksi makna, yaitu berfikir yang menyesatkan. Socrates karena kerendahan hati dan menghindarkan diri dari pengidentifikasian dengan kaum sofis, (cendikiawan). Oleh karena itu , istilah filsuf tidak pakai orang sebelum Socrates.
Mereka membagi filsafat kepada dua bagian yakni, filsafat teoretis dan praktis. Filsafat teoretis mencakup: (1) Ilmu pengetahuan alam, seperti: fisika, biologi, ilmu pertambangan, dan astronomi; (2) ilmu eksakta dan matematika; (3) ilmu tentang ketuhanan dan metafisika. Filsafat praktis mencakup; (1) norma-norma (akhlak); (2) urusan ruma tangga; (3) sosial dan politik. Secara umum filsafat berarti upaya manusia untuk memahami segala sesuatu secara sistemtis, radikal, dan kritis.
Definisi lain yang dibuat Betrand Russel mungkin menarik untuk diungkap “ the attermpt to answer ultimate question critally” : upaya untuk menjawab petanyaan tinggi secara kritis. Russel , menyebutkan tentang pertanyaan tinggi yang di jawab filsafat, sekaligus membedakan dengan pertanyaan lainnya yang di jawab sains. Sains akan kesulitan menjawab, dan filsafat lah yang bisa memunculkan jawabannya, yaitu adanya kehendak tuhan atau takdir. Jadi, filsafat berupaya menjawab persoalan-persoalan “ultimate question”yang tidak bisa dijawab oleh sains.

Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa filsafat menurut kalangan filsuf sebagai berikut:
1.      Pengetahuan yang berupa menyajikan suatu pandangan sistematik dan integral tentang seluruh realitas.
2.      Pengetahuan yang berupa untuk menemukan hakikat realitas akhir dan mendasar secara nyata.
3.      Pengetahuan yang berupa untuk menentukan batas-batas dan jangkauan pengatahuan sumber daya,hakikat,keabsahan dan nilainya.
4.      Penyelidikan kritis atas pengandaian-pengandaian dan pernyataan-pernyataan yang di ajukan oleh berbagai bidang pengetahuan.
5.       Pengetahuan yang berupa untuk membantu anda melihat apa yang anda katakan dan untuk menyatakan apa yang anda lihat.
2.      Berfikir Filsafat
Untuk lebih memahami pengertian filsafat, perlu dipelajari tiga karakteristik berpikir filsafat, sebagai berikut.
a.       Sifat Menyeluruh.
Seorang ilmuan tidak akan pernah puas jika hanya mengenal ilmu dari segi ilmu itu sendiri. Ia ingin tau hakikat ilmu dari sudut panadang lain. Kaitannya dengan moralitas, serta ingin yakin apakah ilmu ini akan membawa kebahagiaan sendiri.Hal ini akan memuat ilmuan tidak merasa sombong dan paling hebat.
b.      Sifat Mendasar.
Yakni, sifat yang tidak saja begitu percaya bahwa ilmu itu benar. Mengapa ilmu itu benar? Bagaimana proses penilaian berdasarkan kriteria tersebut dilakukan? Apakah kriteria itu sendiri benar? Lalu benar sendiri itu apa? Seperti sebuah pertanyaan yang melingkar yang harus dimulai dengan menentukan titik yang benar.
c.       Spekulatif.
Dalam menyusun sebuah lingkaran dan menentukan titik awal sebuah lingkaran yang sekaligus menjadi titik akhirnya dibutukan sebuah sifat spekulatif baik sisi proses, analisis maupun pembuktiannya. Penyataan Newton ini menggambarkan bahwa kerja ilmiah filsafat tak ada keparipurnaan, yang ada hanya pencarian yang dinamis, selalu mungkin berubah dan tak pernah selesai.
3.      Munculnya Filsafat
Filsafat, terutama filsafat barat muncul di Yunani semenjak kira-kira abat ke-7 SM. Filsafat muncul ketika orang-orang mulai berpikir dan berdiskusi tentang keadaan alam, dunia, lingkungan di sekitar mereka dan tidak menggantungkan diri kepada agama lagi untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyan ini. Banyak yang bertanya-tanya mengapa salfat muncul di Yunani dan tidak di daerah lain kala itu seperti babilonia, atau mesir? Yaitu mesir di lembah sungai Nil dan peradapan Babilonia di sepanjang sungai Tingris, akan tetapi di Yunani, tidak seperti di daerah lainnya tidak ada kasta pendeta sehingga secara intelektual orang Yunani lebih bebas.
4.      Klasifikasi filsafat
Filsafat dan karya-karya fiksuf yang bertebaran di berbagai penjuru dunia dapat diklasifikasikan menurut letak geografis dan budaya. Dalam kaitan ini, filsafat biasa dibagi menjadi tiga bagian, yaitu Filsafat Barat, Filsafat Timur, dan Filsafat Islam.
a.      Filsafat Barat
Filsafat Barat adalah ilmu yang biasa dipelajari secara ekademis di universitas-universitas di Eropa dan daerah-daerah jajahan mereka.
Filsafat ini berkembang dari tradisi filsafat orang yunani kuno. Dikalangan masyarakat barat, pemikiran yang sistematis, radikal, dan kritis sering kali merujuk pengertian yang ketat dan harus mengandung kebeneran logis.
Dalam filsafat Barat secara sistematis terbagi menjadi tiga bagian besar yakni: (a) bagian filsafat yang mengkaji tentang ada (being) , (b) bidang filsafat yang mengaji pengetahuan (epistemologi dalam arti luas) , (c) bidang filsafat yang mengaji nilai-nilai menentukan apa yang seharusnya di lakukan manusia (aksiologi).
      Beberapa tokoh dalam filsafat Barat yang populer dari jaman ke zaman,antara lain:
1.      Rene Descartes (1596-1650). Buku filsafat ynag terpenting dari karyanya adalah Discourse de la methode, ditulis tahun 1637 dan Meditations ditulis tahun 1642. Descartes adalah (i) Kebenaran terletak pada diri subjek; (ii) Mencari titik pangkal pasti dalam pikiran dan pengetahuan manusia, khusus dalam ilmu alam; (iii) Metode untuk memperoleh kepastian adalah meragukan segala sesuatu. (iv) dalam mencari proses kebenaran hendaknya kita gunakan ide-ide yang jelas dan tajam. (v) pandangannya tentang alam bersifat mekanistik dan kuantitatif. (vi) kenyataanya dibaginya menjadi dua yaitu : res extensa (yakni, kenyataan yang digambarkan sebagai tubuh atau realitas) dan rescogitans ( yakni, hal berpikir atau subjek yang berpikir atau sujek yang berpikir.”
2.      Immanuel kant ( 1724-1804). Descartes berhasil menghentikan dominasi iman dan menghargai kembali akal. Kemudian kant menghentikan sofisme modern untuk mendudukkan kembali akal dan iman pada posisi masing-maasing. Dengan kerangka seperti inilah , agaknya kant mendapat tempat yang lebih lumayan didalam sejarah filsafat. Dalam konteks ini, kant mengajukan tiga tulisan, yaitu: (a) kritis atau rasio murni, apa yang saya dapat ketahui. (b) kritik rasio praktis, apa yang harus saya buat, kelakuan manusia ditentukan oleh kategori imperatif, keharusan mutlak: kau harus begini dan begitu. (c) kritik atas daya pertimbangan. Disini kant membicarakan peranan perasaan dan fantasi, jembatan antara yang umum dan khusus.
3.      Wittgensteisn (1889-1961) mempunyai aliran analitik (filsafat analitik) yang dikembangkan di negara-negara yang berbhasa nggris, yang juga diteruskan dipolandia. Filsafat analitik menggali dasar-dasar teori ilmu yang berlaku bagi setiap ilmu tersendiri.
b.      Filsafat Timur
Filsafat timur adalah tradisi adalah tradisi filsafat yang terutama berkembang di asia, kususnya di india, tiongkok, dan daerah-daerah lain yang pernah dipengaruhi budayanya.
Sistematika filsafat timur biasanya dirunut berdasrkan kontruksi kronologis waktu, seperti kronologis penciptaan alam hingga kematian.
c.       Filsafat islam
Filsafat islam ini sebenarnya mengambil tempat yang istimewa. Terdapat dua pendapat mengenai sumbangan peradaban islam filsafat dan ilmu pengetahuan, yang terus berkemban hingga saat ini.
Dari pemaparan diatas dapat dikatakan bahwa filsafat dapat berkembang diseluruh penjuru dunia, menembus wilayah barat dan timur, dan masuk bersinergi ke dalam berbagai agama serta aliran keagamaan.
B.     Filsafat Ilmu
1.      Pengertian Filsafat Ilmu
Secara sederhana filsafat ilmu terdiri dari dua kata, yaiu filsafat dan ilmu. Filsafat dapat diartikan sebagai berfikir bebas, radikal, dan berada pada tataran makna. Jadi secara harfiah tidak terlalu berbeda dengan sains.
Dengan demikian, dapat dipahami bahwa filsafat ilmu adalah segenap pemikiran reflektif, radikal dan mendasar berbagai persoalan mengenai ilmu pengetahuan, landasan dan hubungannya dengan segala segi kehidupan. Disamping itu termasuk yang diperoleh secara pasif atau diluar kesadaran, seperti ilham, intuisi, wangsit, atau wahyu.
2.      Signifikansi Filsafat Ilmu
Filsafat ilmu, bertugas menunjukkan bagaimana “pengetahuan tentang sesuatu sebagaimana adanya.” Yang diantaranya adalah ilmu. Sehingga filsafat ilmu digambarkan sebagai filsafat yang memenangkan tempat berpijak bagi kegiatan keilmuan.
Sisi lain yang bisa diamati terkait signifikansi filsafat ilmu adalah munculnya hasil teknologi mutakhir radio, televisi, komputer, kulkas, internet, kipas angin, dan perabotan rumah tangga, dan lain-lain sebagai kontribusi nyata dari ilmu-ilmu kealaman.
Dalam tradisi islam, kita juga menyaksikan ragam khanzanah keilmuan seperti al-qur’an, ilmu hadis, ilmu fikih, ilmu filsafat, ilmu tasawuf, ilmu kalam, ilmu kebahasaan dan lain-lain.[1]
Pertanyaannya adalah bagaimana rancang bangunan ilmu-ilmu tersebut? Struktur logis yang bagaimana yang bekerja di balik kelahiran, pertumbuhan dan perkembangan ilmu-ilmu tersebut? Lalu bagaimana pengaruh pola pikir yang demikian terhadap pola hidup pribadi dan masyarakat dalam berbangsa dan bernegara? Pada titik inilah filsafat ilmu meletakkan signifikansinya.
3.      Filsafat di berbagai masyarakat
Sebagai seorang yang beragam,kita harus mengatur perbuatan kita agar sesuai dengan perintahan agama, Serta menjauhi larangan-Nya. Nilai baik dan buruk itu diajarkan oleh agama kepada kita semua. Agama itu kita warisi dari Rasul. Rasul memberikan pengertian, tafsiran, dan ulasan tentang agama. Maka bagi jamaah agama, Rasul itu sesungguhnya berfungsi sebagai filsuf.
Dalam masyarakat modern,filsufnya adalah ahlipikir yang mengajarkan aliran faham, yang membentuk pandang hidup dan sikap hidup. Pandangan dunia dan sikap hidup. Pandangan dunia dan sikap hidup itu mengendalikan laku-perbuatan kita.
Dengan demikian jelaskan,bahwa filosof itu tidak harus menurut gambaran tanggapan umum itu dan filsafat itu sesungguhnya berada ditengah-tengah  kita, dalam laku-perbuatan dan tindakan sehari-hari. Kehidupan kita dikendalikan dan diarahkan oleh filsafat.[2]







BAB III
PENUTUP
1.      KESIMPULAN
Pertanyaannya adalah bagaimana rancang bangunan ilmu-ilmu tersebut? Struktur logis yang bagaimana yang bekerja di balik kelahiran, pertumbuhan dan perkembangan ilmu-ilmu tersebut? Lalu bagaimana pengaruh pola pikir yang demikian terhadap pola hidup pribadi dan masyarakat dalam berbangsa dan bernegara? Pada titik inilah filsafat ilmu meletakkan signifikansinya.
2.      SARAN
Mungkin hanya ini penulis makalah dapat kita selesaikan, semoga bermanfaat bagi pembaca dan pendengar, karena makalah ini kurang begitu sempurna, karena kesempurnaan hanya milik Allah SWT.




[1] Dr. Nunu Burhanuddin, Filsafat Ilmu  (Jakarta Timur: Divisi Kencana, 2018), hlm. 1-18.