Thursday, 14 March 2019

JENIS-JENIS KONFLIK



JENIS-JENIS KONFLIK

MAKALAH
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Manajemen Konflik
yang diampu oleh Ibu Rusdiana, M.Pd.I


Oleh:





PROGRAM STUDI MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM
JURUSAN TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI MADURA
2019KATA PENGANTAR
            Segala puji bagi Allah SWT. Yang mana dengan petunjuk dan rahmat-Nya, kelompok kami dapat menyelesaikan tugas ini dengan berbagai buku yang kami jadikan sebagai bahan untuk menyusun makalah dengan materi “ Jenis-jenis Konflik” ini.
            Tidak lupa pula, sholawat dan salam kami haturkan pada junjungan kami Nabi besar Muhammad SAW.
            Kami menyadari adanya kekurangan dalam tugas mata kuliah “ Manajemen Konflik “. Untuk itu kami mohon maaf jika ada kekurangan dalam makalah ini. Karena itu kritik dan saran senantiasa kami harapkan dari para pembaca, guna kesempurnaan tugas makalah ini.
            Untuk itu kami berharap semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi kita semua yang membacanya. Amin




                                                                                 Pamekasan, 11 Maret 2019 


                                                                                                  Kelompok 3
                                                               


DAFTAR ISI



KATA PENGANTAR.................................................................................. ii
DAFTAR ISI................................................................................................ iii
BAB I PENDAHULUAN............................................................................. 1
A.    Latar Belakang................................................................................ 1
B.     Rumusan Masalah........................................................................... 1
C.     Tujuan Makalah............................................................................... 1             
BAB II PEMBAHASAN.............................................................................. 2
A.    Konflik Individu............................................................................. 2
B.     Konflik Kelompok.......................................................................... 5
C.     Konflik Sosial Dan Budaya............................................................ 7       
BAB III PENUTUP .................................................................................... 11
A.    Kesimpulan ................................................................................... 11
B.     Saran.............................................................................................. 11
DAFTAR PUSTAKA  ..................................................................................12


 BAB 1
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Konflik merupakan kondisi yang terjadi ketika dua pihak atau lebih menganggap ada perbedaan posisi yang tidak selaras, tidak cukup sumber dan tindakan salahsatu pihak menghalangi, atau mencampuri atau dalam beberapa hal membuat tujuan pihak lain kurang berhasil.
Tidak satu masyarakat pun yang tidak pernah mengalami konflik antar anggotanya atau dengan kelompok masyarakat lainnya, konflik hanya akan hilang bersamaan dengan hilangnya masyarakat itu sendiri.
Konflik dilatarbelakangi oleh perbedaan ciri-ciri yang dibawa individu dalam suatu interaksi.
Perbedaan-perbedaan tersebut diantaranya adalah menyangkut ciri fisik, kepandaian, pengetahuan, adat istiadat, keyakinan, dan lain sebagainya. Dengan dibawa sertanya ciri-ciri individual dalam interaksi sosial, konflik merupakan situasi yang wajar dalam setiap masyarakat dan tidak satu masyarakat pun yang tidak pernah mengalami konflik antar anggotanya atau dengan kelompok masyarakat lainnya, konflik hanya akan hilang bersamaan dengan hilangnya masyarakat itu sendiri.
Konflik bertentangan dengan integrasi. Konflik dan integrasi berjalan sebagai sebuah siklus di masyarakat. Konflik yang terkontrol akan menghasilkan integrasi. Sebaliknya, integrasi yang tidak sempurna dapat menciptakan konflik.

B.     Rumusan Masalah
1.      Jelaskan apa yang dimaksud dengan konflik individu?
2.      Jelaskan apa yang dimaksud dengan konflik kelompok?
3.      Jelaskan apa yang dimaksud dengan konflik sosial dan budaya?

C.    Tujuan Masalah
1.      Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan konflik individu.
2.      Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan konflik kelompok.
3.      Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan konflik sosial Budaya.





BAB II
PEMBAHASAN
A.    Konflik Individu
Setiap individu mempunyai perbedaan dan keunikan, yang berarti tidak ada dua orang individu yang sama persis di dalam aspek-aspek jasmaniah maupun rohaniah. Timbulnya perbedaan individu dikarenakan berbagai faktor antara lain: faktor pembawaan dan lingkungan sebagai komponen utama bagi terbentuknya kepribadian.[1]
Jadi konflik individu dapat disebut juga sebagai konflik yang terjadi antar individu karena adanya perbedaan dalam aspek-aspek tertentu.
Konflik individu terdiri dari dua bagian yaitu:
a.      Konflik Interpersonal
Konflik interpersonal yaitu konflik antara dua individu atau lebih.[2] Selain itu itu konflik interpersonal dapat diartikan sebagai konflik yang terjadi di dalam suatu organisasi atau konflik di tempat kerja. Konflik yang terjadi diantara mereka yang bekerja untuk suatu organisasi profit atau nonprofit. Konflik interpersonal adalah konflik pada suatu organisasi di antara pihak-pihak yang terlibat konflik dan saling tergantung dalam melaksanakan pekerjaan untuk mencapai tujuan organisasi.
Konflik interpersonal dapat terjadi dalam tujuh macam bentuk. Berikut adalah ketujuh bentuk tersebut.
1)      Konflik antar manajer. Bentuk konflik di antara manajer atau birokrat organisasi dalam rangka melaksanakan fungsinya sebagai pimpinan organisasi.
2)      Konflik antara pegawai dan manajernya. Konflik ini terjadi antara manajer unit kerja dan karyawan di bawahannya. Objek yang menjadi konflik sangat bervariasi tergantung dari aktivitas organisasinya.
3)      Konflik hubungan industrial. Konflik yang terjadi antara organisasi atau perusahaan dan para karyawan atau dengan serikat pekerja; serta konflik antarserikat pekerja.
4)      Konflik antar kelompok kerja. Dalam organisasi, terdapat sejumlah kelompok kerja yang melaksanakan tugas yang berbedauntuk mencapai tujuan organisasi yang sama. Masing-masing kelompok herus memberikan kontribusi dalam mencapai tujuan organisasi.dalam memberikan kontribusi, kelompok-kelompok kerja tersebut saling memiliki ketergantungan.
5)      Konflik antara anggota kelompok kerja dan kelompok kerjanya. Suatu kelompok kerja mempunyai anggota yang memliki keragaman pendidikan, agama, latar belakang budaya, pengalaman, dan kepribadian.
6)      Konflik interes. Konflik yang bersifat idividual dan interpersonal.konflik jenis ini terjadi dalam diri seorang pegawai yang terlibat konflik, yaitu antara keharusan melaksanakan ketertarikan organisasi dan ketertarikan individunya.
7)      Konflik antar organisasi dan pihak luar organisasi. Konflik yang terjadi antara suatuperusahaan atau organisasi dan pemerintah;perusahaan dan perusahaan lainnya; perusahaan dan pelanggan; perusahaan dan lembaga swadaya masyarakat; serta perusahaan dan masyarakat.[3]
Jadi dapat disimpulkan bahwa konflik interpersonal merupakan konflik yang terjadi di dalam organisasi atau di tempat kerja antar dua individu  atau lebih dalam melaksanakan pekerjaannya untuk mencapai tujuan tertentu.
b.      Konflik Intrapersonal
Konflik intrapersonal yaitu konflik yang terjadi dalam diri seseorang.[4] Selain itu konflik intrapersonal juga merupakan konflik yang terjadi dalam diri seseorang individu karena harus memilih dari sejumlah alternatif pilihan yang ada atau karena mempunyai kepribadian ganda. Konflik ini terdiri atas, antara lain sebagai berikut.
1)      Konflik pendekatan ke pendekatan (approach to aproach conflict). Konflik yang terjadi karena harus memilih dua alternatif yang berbeda, tetapi sama-sama menarik atau sama baik kualitasnya. Sebagai contoh, seorang lulusan SMA yang akan melanjutkan sekolah harus memilih dua universitas negeri yang sama kualitasnya.
2)      Konflik menghindar ke menghindar (avoidance to avoidance conflict). Konflik yang terjadi karena harus memilih alternatif yang sama-sama harus dihindari. Sebagai contoh, seseorang harus memilih apakah harus menjual mobil, tetapi tidak bisa melanjutkan sekolah.
3)      Konflik pendekatan ke menghindar (approach to avoidance conflict). Konflik yang terjadi karena seseorang mempunyai perasaan positif dan negatif terhadap sesuatu yang sama. Sebagai contoh, amin mengambil telepon untuk menyatakan cintanya kepada aminah. Akan tetapi, ia takut cintanya ditolak. Oleh karena itu, ia tutup kembali teleponnya.
Konflik intrapersonal juga bisa terjadi pada diri seseorang yang mempunyai kepribadian ganda. Ia adalah seseorang yang munafik dan melakukan sesuatu yang berbeda antara perkataan dan perbuatan. Sebagai contoh, seorang pemimpin yang mengampanyekan demokratisasi dlam semua bidang kehidupan dan mendirikan organisasi forum demokrasi. Namun, dalam memimpin partai yang dipimpinnya, ia bertindak dengan cara otokratis, tidak dengan cara demokratis yang telah ia ajarakan.[5]
Jadi penulis dapat menyimpulkan bahwa konflik intrapersonal merupakan suatu konflik yang terjadi pada diri seseorang yang mempunyai kepribadian ganda karena harus memilih sejumlah alternatif.
Dari paparan diatas juga dijelaskan bahwa konflik interpersonal dan konflik intrapersonal merupakan konflik individu. Dimana keduanya mempunyai perbedaan masing-masing. Perbedaan berikut dapat dipahami dari penjelasan masing-masing konflik bahwasannya konflik interpersonal merupakan konflik yang terjadi antar dua individu atau lebih sedangkan konflik intrapersonal merupakan konflik yang terjadi dalam diri seseorang.
B.     Konflik Kelompok
Sebuah kelompok dapat dianggap sebagai hal yang melebihi dan ia bebeda dibandingkan dengan jumlah dari bagian-bagian individualnya. Konflik di dalam sebuah kelompok tertentu dapat melibatkan kelompok tersebut secara keseluruhan, maupun para anggota individualnya.[6]
Konflik kelompok terdiri dari dua bagian yaitu:
a.      Konflik Organisasi
Apabila kita memperhatikan konflik dari satu sudut pandangan intra keorganisasian, maka dapat dikemukakan adanya empat macam tipe konflik sebagai berikut
1)      Konflik vertikal , seperti konflik antara pihak atasan dan bawahan.
2)      Konflik horizontal, seperti konflik antara karyawan-karyawan atau departemen-departemen pada tingkat hierarki.
3)      Konflik garis-staf, kebanyakan organisasi memiliki kesatuan-kesatuan staf, yang membantu departemen-departemen garis.
4)      Konflik peranan, peranan seorang karyawan merupakan aktivitas yang diekspektasi oleh pihak lain akan dilaksanakan individu tersebut dalam posisinya di dalam organisasi yang bersangkutan.
Walaupun tipe-tipe konflik yang dikemukakan mungkin kadang-kadang tumpang-tidih, terutama dengan konflik peranan, masing-masing tipe ciri-ciri khas.[7]
Salah satu penyebab terjadinya konflik dalam organisasi adalah pembagian tugas dalam birokrasi organisasi dan spesialisasi tenaga kerja pelaksananya. Berbagai unit kerja dalam birokrasi organisasi berbeda formalitas strukturnya (formalitas tinggi versus formalitas rendah); dan unit kerja yang berorientasi pada tugas dan ada yang berorientasi pada hubungan; dan orientasi pada waktu penyelesaian tugas (jangka pendek dan jangka panjang). Sebagaicontoh, unit kerja pemasaran lebih berorientasi pada waktu jangka pendek, lebih formal dalam struktur organisasi, dan lebih fokus pada hubungan interpersonal jika dibandingkan dengan unit kerja penelitian dan pengembangan. Perbedaan itu dapat menimbulkan konflik karena perbedaan pola pikir, perbedaan perilaku, dan perbedaan pendapat mengenai sesuatu.[8]
Dapat disimpulkan bahwa konflik organisasi merupakan konflik yang terjadi dalam suatu organisasi karena adanya perbedaan pola pikir, perilaku, serta perbedaan pendapat mengenai sesuatu. Di dalam organisasi terdapat banyak tipe dalam konflik tersebut. Di atas telah dijelaskan bahwa ada empat tipe konflik yaitu: konflik fertikal, konflik horizontal, konflik garis staf, serta konflik peranan.
b.      Konflik Lini-Staf
Para anggota lini dan anggota staf memiliki , secara tipikal memiliki ciri-ciri pribadi yang berbeda-beda.
Para anggota staf cenderung memiliki tingkat pendidikan lebih tinggi, dan mereka berasal dri berbagai macam latar belakang dan mereka umunya lebih muda dibandingkan dengan para karyawan lini.
Ciri-ciri pribadi yang berbeda demikian kerap seklai dikaitkan dengan nilai-nilai dan keyakinan-keyakinan yang berbeda.
Para anggota lini mungkin merasa bahwa para anggota staf melintas wilayah mereka dan memasuki wilayah ooritas resmi para anggota lini tersebut.
Dalam banyak kasus, orang-orang staf menspesifikasi metodologi-metodologi dan pengendalian sumber-sumber daya yang digunakan dalam proses produksi.
Sebagai contoh misalnya dapatdikemukakan bahwa banyak organisasi produksi mempunyai insinyur-insinyur staf, yang menspesifikasi beberapa banyak masing-masing produk harus diproduksi, dan bahan-bahan apa yang boleh digunakan.
Pada saat yang bersamaan, para manajer garis harus bertanggng jawab terhadap supervisi para pekerja bidang produksi dan mereka harus bertanggung jawab terhadap output yang dihasilkan.
Jelas kirannya bahwa para anggota lini, mungkin akan merasa timbulnya konflik apabila para insinyur seakan-akan mengarahkan aktivitas-aktivitas orang-orang bidang produksi.
Para anggota lini mengemukakan alasan bahwa otoritas mereka untuk membina dn memimpin para pekerja dikurangi, tetapi betanggung jawab mereka terhadap output tidak dirubah.
Otoritas yang dipersepsi kurang, dibaningkan dengan tanggung jawab yang dipersepsi, hal mana terjadi karena keterlibatan staf.[9]
Jadi dari penjelasan diatas dapat kita pahami bahwa konflik lini staf merupakan konflik yang terjadi di atara anggota lini dan anggota staf. Konflik ini terjadi karena ada perbedaan pola pikir, perilaku serta perbedaan pendapat mengenai sesuatu diantara keduanya. Anggota lini mempunyai pikiran negatif tentang anggota staf, begitupun sebaliknya. Mungkin konflik ini bisa saja tidak ada jika diantara kedua mempunyai pola pikiri positif dengan apa yang terjadi di antara keduanya, serta bisa bekerja sama dalam suatu organisasi agar bisa mencapi tujuan bersama.
C.    Konflik Sosial dan Budaya
a.      Definisi Konflik Sosial dan Budaya
Dalam setiap kelompok sosial selalu ada benih-benih pertentangan antara individu dan individu, kelompok dan kelompok, individu atau kelompok dengan pemerintah. Pertentangan ini biasanya berbentuk non fisik. Tetapi dapat berkembang menjadi benturan fisik,kekerasan dan tidak berbentuk kekerasan.
Oleh karena itu konflik sosial merupakan perbedaan pikiran, pandangan serta kepentingan seorang individu maupun kelompok dalam setiap tindakan sosial yang dilakukannya.[10]
Budaya adalah norma, nilai-nilai, kebiasaan, dan terdisi yang berkembang di masyarakat, diajarkan, dan dilaksanakan kepada para anggotanya sehingga memengaruhi sikap dan perilaku para anggota masyarakat. Masyarakat beragam jenisnya oleh karena itu budayanya beragam. Keragaman budaya menimbulkan keberagaman sikap dan perilaku.
Setiap jenis budaya saling berinteraksi, saling berkomunikasi, dan saling memengaruhi. Dalam interaksi tersebt, konflik antarbudaya dapat terjadi. Stella Ting-Toomey desen California State University at Fullertion, AS mendefinisikan konflik antar budaya sebagai berikut “Intercultural conflict is defined as the perceived or actual incompatibility of values, norms, processes, or goals between minimum of two cultural perties over content, indentity, relation, and proceduralissues”. Konflik antar budaya merupakan isu mengenai persepsi atau aktual inkompabilitas dari nilai-nilai, norma, proses, hubungan dan prosedural.[11]
Dapat ditarik kesimpulan bahwa konflik budaya merupakan pertentangan yang terjadi didalam masyarakat akibat perbedaan budaya.
Konflik sosial budaya merupakan konflik yang sering dialami oleh sebagian masyarakat. Hal ini dapat mengakibatkan runtuhnya persatuan dan kesatuan sedangkan di Indonesia sangat menjunjung tinggi nilai persatuan dan kesatuan . Jadi kita sebagi warga Indonesia harus ikut berpartisipasi dalam menjaga persatuan dan kesatuan dengan cara tidak menimbulkan koflik yang berakibat runtuhnya persatuan dan kesatuan.


b.      Latar Belakang Terjadinya Konflik Sosial Budaya
      Fenomena konflik sosial budaya dilatar belakangi oleh berbagai faktor yaitu:
1)      Konflik sosial budaya timbul karena masyarakat terdiri atas sejumlah kelompok yang mempunyai karakteristik yang berbeda satu sama lain.
2)      Kemiskinan bisa jadi pemicu terjadi konflik sosial budaya. Sosiolog mengelompokan masyarakat menjadi golongan atas, golongan menengah, dan golongan bawah.
3)      Adanya migrasi manusia dari suatu tempat ke tempat lainnya. Konflik yang sering terjadi antar para migran dan penduduk asli suatu daerah.
4)      Konflik yang terjadi antar kelompok sosial yang mempunyai karakteristik dan perilaku yang inklusif atau saling terpisah dan ingin mendominasi kehidupan politik, ekonomi, dan kemasyarakatan.[12]
c.       Terminologi Budaya yang Kuat dan Sehat
     Budaya kerja dalam suatu organisasi merupakan cerminan aktivitas sehari-hari sumber daya manusia organisasi dalam menyelesaikan tugasnya. Tjahjono (2011:138) menyatakan, budaya kerja yang dibutuhkan organisasi untuk meningkatkan produktivitasnya adalah budaya organisasi yang kuat dan sehat, yakni budaya yang tidak mudah diruntuhkan dan bernilia positif. Budaya yang kuat bisa saja positif namun bisa juga negatif dan berbahaya. oleh karena itu, dalam suatu organisai tidak cukup hanya tercipta budaya yang kuat tetapi tidak sehat. Hal itu dapat menyebabkan nilai nilai kebaikan dan kebenaran dalam organisasi menjadi hilang. Sebagai contoh, suatu organisasi yang tingkat molornya tinggi dan telah berlangsung lama akan sulit dirubah sehingga hal itu menjadi cerminan budaya dan termasuk budaya yang kuat, namun negatif (kontraproduksi).
     Supaya dapat  terciptanya budaya organisasi yang kuat dan sehat dibutuhkan kemampuan masing-masing kelompok untuk menciptakan hubungan yang harmonis dalam suatu organisasi .berkaitan penyelisihan terhadap ide-ide, pendapat, dan peraturan-peraturan yang berkembang dibutuhkan usaha dan kontrol emosi untuk menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi.
     Budaya organisasi yang kuat dan sehat tidak terbentuk dengan sendirinya melainkan terbentuk karena diciptakan oleh individu-individu atau organisasi. Budaya organisasi mempunyai ciri-ciri sebagai berikut.
1.      Budaya bersifat dinamis, maka pemimpin (pelaku bisnis) wajib mempen\rbarui serta mengembangkannya sesuai dengan tuntutan dan perubahan.
2.      Budaya bisa terbentuk dengan sengaja atau tidak, maka kita bisa meembangun dan mengembangkan budaya yang kita inginkan atau harapkan.
3.      Budaya pada tingkatan implementasinya membutuhkan komitmen total dari pihak  top managemen.
Budaya organisasi yang kuat dan sehat dapat diciptakan melalui cara bekerja sama dnegan semua pihak. Manager organisasi dapat memperbarui budaya kerja organisasi agar selalu sesuai dengan tujuan dan perkembangan zaman. Budaya yang bersifat dinamis, karena itu budaya dapat diciptakan sendiri oleh anggota organisasi dan diawali oleh manajernya.
Keberhasilan organisasi dalam mencapai tujuannya ditentukan oleh keefektifan kerja sama antar individu atau kelompok di dalamnya. Kerjasama yang efektif bergantung pada kualitas dan hubungan antar individu atau kelompok pada suatu pekerjaan. Kurangnya interaksi interpersonal berdampak pada tidak terbentuknya kerjasama yang kohesif.[13]
BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
1.      Jadi konflik individu dapat disebut juga sebagai konflik yang terjadi antar individu karena adanya perbedaan dalam aspek-aspek tertentu. Dimana konflik individu terdiri dari, konfli interpersonal dan intrapersonal.
2.      Konflik Kelompok merupakan konflik di dalam sebuah kelompok tertentu yang melibatkan kelompok tersebut secara keseluruhan, maupun para anggota individualnya.
3.      Konflik sosial budaya merupakan konflik yang sering dialami oleh sebagian masyarakat. Hal ini dapat mengakibatkan runtuhnya persatuan dan kesatuan
B.     Saran
Demikian makalah yang dapat kami susun dan kami sangat menyadari makalah ini jauh dari kata sempurna. Maka kritik dan saran yang membangun demi perbaikan dan pengembangan sangat kami harapkan. Dan semoga dengan adanya makalah ini dapat menambah pengetahuan kita dan bermanfaat bagi pembaca. Amin.










DAFTAR PUSTAKA
Mustamin. studi konflik sosial, di desa bugis dan peperangan kecamatan sape kabupaten bima tahun 2014. jurnal Ilmiah mandala Education, oktober 2016 jime, Vol.2 No 2.

Wahyudi. manajemen konflik dalam organisasi. Bandung: Alfabeta,2015.

Winardi. Manajemen Perilaku Organisasi. Jakarta: Prenada Media,2004.

Wirawan. konflik dan Manajemen Konflik. Jakarta: Salemba Humanika, 2010.

Puspita, Weni. Manajemen Konflik. Yogyakarta: Deepublish, 2018.

Qomar, Mujamil. Manajemen Pendidikan Islam. Jakarta: Erlangga, tt.






[1] Wahyudi, manajemen konflik dalam organisasi, (Bandung: Alfabeta,2015), Hlm.,30
[2] Mujamil Qomar, Manajemen Pendidikan Islam, (Jakarta: Erlangga, tt), Hlm., 237
[3] Wirawan, konflik dan Manajemen Konflik, (Jakarta: Salemba Humanika, 2010), Hlm., 55-56
[4] Mujamil Qomar, Manajemen Pendidikan Islam,Hlm., 30
[5] Wirawan, konflik dan Manajemen Konflik, Hlm., 55
[6] Winardi, Manajemen Perilaku Organisasi, (Jakarta: Prenada Media,2004 ), Hlm., 404
[7] Ibid, Hlm,. 411
[8] Wirawan, konflik dan Manajemen Konflik, Hlm.,11
[9] Winardi, Manajemen Perilaku Organisasi, (Jakarta: Prenada Media,2004 ), Hlm., 414-415.

[10] Mustamin, studi konflik sosial, di desa bugis dan peperangan kecamatan sape kabupaten bima tahun 2014, jurnal Ilmiah mandala Education, oktober 2016 jime, Vol.2 No 2, Hlm 185-186.
[11]  Wirawan, konflik dan Manajemen Konflik, Hlm., 101-102.
[12] Wirawan, konflik dan Manajemen Konflik, Hlm.,81-82
[13] Weni Puspita, Manajemen Konflik, (Yogyakarta: Deepublish, 2018), Hlm. 63-64.