JENIS-JENIS KONFLIK
MAKALAH
Disusun untuk
memenuhi tugas mata kuliah Manajemen Konflik
yang diampu
oleh Ibu Rusdiana, M.Pd.I
Oleh:
PROGRAM STUDI MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM
JURUSAN TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI MADURA
2019KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah SWT. Yang
mana dengan petunjuk dan rahmat-Nya, kelompok kami dapat menyelesaikan tugas
ini dengan berbagai buku yang kami jadikan sebagai bahan untuk menyusun makalah
dengan materi “ Jenis-jenis Konflik” ini.
Tidak lupa pula, sholawat dan salam
kami haturkan pada junjungan kami Nabi besar Muhammad SAW.
Kami menyadari adanya kekurangan
dalam tugas mata kuliah “ Manajemen Konflik “. Untuk itu kami mohon maaf jika
ada kekurangan dalam makalah ini. Karena itu kritik dan saran senantiasa kami
harapkan dari para pembaca, guna kesempurnaan tugas makalah ini.
Untuk itu kami berharap semoga
makalah ini bisa bermanfaat bagi kita semua yang membacanya. Amin
Pamekasan, 11 Maret 2019
Kelompok 3
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.................................................................................. ii
DAFTAR ISI................................................................................................
iii
BAB I PENDAHULUAN............................................................................. 1
A. Latar Belakang................................................................................ 1
B. Rumusan Masalah........................................................................... 1
C. Tujuan Makalah............................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN.............................................................................. 2
A.
Konflik Individu............................................................................. 2
B.
Konflik Kelompok.......................................................................... 5
C. Konflik Sosial
Dan Budaya............................................................ 7
BAB III PENUTUP .................................................................................... 11
A. Kesimpulan ................................................................................... 11
B. Saran.............................................................................................. 11
DAFTAR PUSTAKA
..................................................................................12
BAB 1
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Konflik merupakan kondisi yang
terjadi ketika dua pihak atau lebih menganggap ada perbedaan posisi yang tidak
selaras, tidak cukup sumber dan tindakan salahsatu pihak menghalangi, atau
mencampuri atau dalam beberapa hal membuat tujuan pihak lain kurang berhasil.
Tidak satu
masyarakat pun yang tidak pernah mengalami konflik antar anggotanya atau dengan
kelompok masyarakat lainnya, konflik hanya akan hilang bersamaan dengan
hilangnya masyarakat itu sendiri.
Konflik
dilatarbelakangi oleh perbedaan ciri-ciri yang dibawa individu dalam suatu
interaksi.
Perbedaan-perbedaan tersebut
diantaranya adalah menyangkut ciri fisik, kepandaian, pengetahuan, adat
istiadat, keyakinan, dan lain sebagainya. Dengan dibawa sertanya ciri-ciri individual
dalam interaksi sosial, konflik merupakan situasi yang wajar dalam setiap
masyarakat dan tidak satu masyarakat pun yang tidak pernah mengalami konflik
antar anggotanya atau dengan kelompok masyarakat lainnya, konflik hanya akan
hilang bersamaan dengan hilangnya masyarakat itu sendiri.
Konflik bertentangan dengan
integrasi. Konflik dan integrasi berjalan sebagai sebuah siklus di masyarakat.
Konflik yang terkontrol akan menghasilkan integrasi. Sebaliknya, integrasi yang
tidak sempurna dapat menciptakan konflik.
B.
Rumusan Masalah
1.
Jelaskan apa yang dimaksud dengan konflik individu?
2.
Jelaskan apa yang dimaksud dengan konflik kelompok?
3.
Jelaskan apa yang dimaksud dengan konflik sosial dan budaya?
C.
Tujuan Masalah
1.
Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan konflik individu.
2.
Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan konflik kelompok.
3.
Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan konflik sosial Budaya.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Konflik Individu
Setiap individu mempunyai perbedaan dan keunikan, yang berarti
tidak ada dua orang individu yang sama persis di dalam aspek-aspek jasmaniah
maupun rohaniah. Timbulnya perbedaan individu dikarenakan berbagai faktor
antara lain: faktor pembawaan dan lingkungan sebagai komponen utama bagi
terbentuknya kepribadian.[1]
Jadi konflik individu dapat disebut juga sebagai konflik yang
terjadi antar individu karena adanya perbedaan dalam aspek-aspek tertentu.
Konflik individu terdiri dari dua bagian yaitu:
a.
Konflik Interpersonal
Konflik interpersonal yaitu konflik antara dua individu atau lebih.[2]
Selain itu itu konflik interpersonal dapat diartikan sebagai konflik yang
terjadi di dalam suatu organisasi atau konflik di tempat kerja. Konflik yang
terjadi diantara mereka yang bekerja untuk suatu organisasi profit atau
nonprofit. Konflik interpersonal adalah konflik pada suatu organisasi di antara
pihak-pihak yang terlibat konflik dan saling tergantung dalam melaksanakan
pekerjaan untuk mencapai tujuan organisasi.
Konflik interpersonal dapat terjadi dalam tujuh macam bentuk.
Berikut adalah ketujuh bentuk tersebut.
1)
Konflik antar manajer. Bentuk konflik di antara manajer atau
birokrat organisasi dalam rangka melaksanakan fungsinya sebagai pimpinan
organisasi.
2)
Konflik antara pegawai dan manajernya. Konflik ini terjadi antara
manajer unit kerja dan karyawan di bawahannya. Objek yang menjadi konflik
sangat bervariasi tergantung dari aktivitas organisasinya.
3)
Konflik hubungan industrial. Konflik yang terjadi antara organisasi
atau perusahaan dan para karyawan atau dengan serikat pekerja; serta konflik antarserikat
pekerja.
4)
Konflik antar kelompok kerja. Dalam organisasi, terdapat sejumlah
kelompok kerja yang melaksanakan tugas yang berbedauntuk mencapai tujuan
organisasi yang sama. Masing-masing kelompok herus memberikan kontribusi dalam
mencapai tujuan organisasi.dalam memberikan kontribusi, kelompok-kelompok kerja
tersebut saling memiliki ketergantungan.
5)
Konflik antara anggota kelompok kerja dan kelompok kerjanya. Suatu
kelompok kerja mempunyai anggota yang memliki keragaman pendidikan, agama,
latar belakang budaya, pengalaman, dan kepribadian.
6)
Konflik interes. Konflik yang bersifat idividual dan
interpersonal.konflik jenis ini terjadi dalam diri seorang pegawai yang
terlibat konflik, yaitu antara keharusan melaksanakan ketertarikan organisasi
dan ketertarikan individunya.
7)
Konflik antar organisasi dan pihak luar organisasi. Konflik yang
terjadi antara suatuperusahaan atau organisasi dan pemerintah;perusahaan dan
perusahaan lainnya; perusahaan dan pelanggan; perusahaan dan lembaga swadaya
masyarakat; serta perusahaan dan masyarakat.[3]
Jadi dapat disimpulkan bahwa konflik interpersonal merupakan
konflik yang terjadi di dalam organisasi atau di tempat kerja antar dua
individu atau lebih dalam melaksanakan
pekerjaannya untuk mencapai tujuan tertentu.
b.
Konflik Intrapersonal
Konflik intrapersonal yaitu konflik yang terjadi dalam diri
seseorang.[4] Selain
itu konflik intrapersonal juga merupakan konflik yang terjadi dalam diri
seseorang individu karena harus memilih dari sejumlah alternatif pilihan yang
ada atau karena mempunyai kepribadian ganda. Konflik ini terdiri atas, antara
lain sebagai berikut.
1)
Konflik pendekatan ke pendekatan (approach to aproach conflict).
Konflik yang terjadi karena harus memilih dua alternatif yang berbeda,
tetapi sama-sama menarik atau sama baik kualitasnya. Sebagai contoh, seorang
lulusan SMA yang akan melanjutkan sekolah harus memilih dua universitas negeri
yang sama kualitasnya.
2)
Konflik menghindar ke menghindar (avoidance to avoidance
conflict). Konflik yang terjadi karena harus memilih alternatif yang
sama-sama harus dihindari. Sebagai contoh, seseorang harus memilih apakah harus
menjual mobil, tetapi tidak bisa melanjutkan sekolah.
3)
Konflik pendekatan ke menghindar (approach to avoidance
conflict). Konflik yang terjadi karena seseorang mempunyai perasaan positif
dan negatif terhadap sesuatu yang sama. Sebagai contoh, amin mengambil telepon
untuk menyatakan cintanya kepada aminah. Akan tetapi, ia takut cintanya
ditolak. Oleh karena itu, ia tutup kembali teleponnya.
Konflik intrapersonal juga bisa terjadi pada diri seseorang yang
mempunyai kepribadian ganda. Ia adalah seseorang yang munafik dan melakukan
sesuatu yang berbeda antara perkataan dan perbuatan. Sebagai contoh, seorang
pemimpin yang mengampanyekan demokratisasi dlam semua bidang kehidupan dan
mendirikan organisasi forum demokrasi. Namun, dalam memimpin partai yang
dipimpinnya, ia bertindak dengan cara otokratis, tidak dengan cara demokratis
yang telah ia ajarakan.[5]
Jadi penulis dapat menyimpulkan bahwa konflik intrapersonal merupakan
suatu konflik yang terjadi pada diri seseorang yang mempunyai kepribadian ganda
karena harus memilih sejumlah alternatif.
Dari paparan diatas juga dijelaskan bahwa konflik interpersonal dan
konflik intrapersonal merupakan konflik individu. Dimana keduanya mempunyai
perbedaan masing-masing. Perbedaan berikut dapat dipahami dari penjelasan
masing-masing konflik bahwasannya konflik interpersonal merupakan konflik yang
terjadi antar dua individu atau lebih sedangkan konflik intrapersonal merupakan
konflik yang terjadi dalam diri seseorang.
B.
Konflik Kelompok
Sebuah kelompok
dapat dianggap sebagai hal yang melebihi dan ia bebeda dibandingkan dengan
jumlah dari bagian-bagian individualnya. Konflik di dalam sebuah kelompok
tertentu dapat melibatkan kelompok tersebut secara keseluruhan, maupun para
anggota individualnya.[6]
Konflik kelompok terdiri dari dua bagian yaitu:
a.
Konflik Organisasi
Apabila kita memperhatikan konflik dari satu sudut pandangan intra
keorganisasian, maka dapat dikemukakan adanya empat macam tipe konflik sebagai
berikut
1)
Konflik vertikal , seperti konflik antara pihak atasan dan bawahan.
2)
Konflik horizontal, seperti konflik antara karyawan-karyawan atau
departemen-departemen pada tingkat hierarki.
3)
Konflik garis-staf, kebanyakan organisasi memiliki kesatuan-kesatuan
staf, yang membantu departemen-departemen garis.
4)
Konflik peranan, peranan seorang karyawan merupakan aktivitas yang
diekspektasi oleh pihak lain akan dilaksanakan individu tersebut dalam
posisinya di dalam organisasi yang bersangkutan.
Walaupun tipe-tipe konflik yang dikemukakan mungkin kadang-kadang
tumpang-tidih, terutama dengan konflik peranan, masing-masing tipe ciri-ciri
khas.[7]
Salah satu penyebab terjadinya konflik dalam organisasi adalah
pembagian tugas dalam birokrasi organisasi dan spesialisasi tenaga kerja
pelaksananya. Berbagai unit kerja dalam birokrasi organisasi berbeda formalitas
strukturnya (formalitas tinggi versus formalitas rendah); dan unit kerja yang
berorientasi pada tugas dan ada yang berorientasi pada hubungan; dan orientasi
pada waktu penyelesaian tugas (jangka pendek dan jangka panjang).
Sebagaicontoh, unit kerja pemasaran lebih berorientasi pada waktu jangka
pendek, lebih formal dalam struktur organisasi, dan lebih fokus pada hubungan
interpersonal jika dibandingkan dengan unit kerja penelitian dan pengembangan.
Perbedaan itu dapat menimbulkan konflik karena perbedaan pola pikir, perbedaan
perilaku, dan perbedaan pendapat mengenai sesuatu.[8]
Dapat disimpulkan bahwa konflik organisasi merupakan konflik yang
terjadi dalam suatu organisasi karena adanya perbedaan pola pikir, perilaku,
serta perbedaan pendapat mengenai sesuatu. Di dalam organisasi terdapat banyak
tipe dalam konflik tersebut. Di atas telah dijelaskan bahwa ada empat tipe
konflik yaitu: konflik fertikal, konflik horizontal, konflik garis staf, serta
konflik peranan.
b.
Konflik Lini-Staf
Para anggota lini dan anggota staf memiliki , secara tipikal
memiliki ciri-ciri pribadi yang berbeda-beda.
Para
anggota staf cenderung memiliki tingkat pendidikan lebih tinggi, dan mereka
berasal dri berbagai macam latar belakang dan mereka umunya lebih muda
dibandingkan dengan para karyawan lini.
Ciri-ciri pribadi yang berbeda demikian kerap seklai dikaitkan
dengan nilai-nilai dan keyakinan-keyakinan yang berbeda.
Para
anggota lini mungkin merasa bahwa para anggota staf melintas wilayah mereka dan
memasuki wilayah ooritas resmi para anggota lini tersebut.
Dalam banyak kasus, orang-orang staf menspesifikasi
metodologi-metodologi dan pengendalian sumber-sumber daya yang digunakan dalam
proses produksi.
Sebagai contoh misalnya dapatdikemukakan bahwa banyak organisasi
produksi mempunyai insinyur-insinyur staf, yang menspesifikasi beberapa banyak
masing-masing produk harus diproduksi, dan bahan-bahan apa yang boleh
digunakan.
Pada saat yang bersamaan, para manajer garis harus bertanggng jawab
terhadap supervisi para pekerja bidang produksi dan mereka harus bertanggung
jawab terhadap output yang dihasilkan.
Jelas kirannya bahwa para anggota lini, mungkin akan merasa
timbulnya konflik apabila para insinyur seakan-akan mengarahkan
aktivitas-aktivitas orang-orang bidang produksi.
Para anggota lini mengemukakan alasan bahwa otoritas mereka untuk
membina dn memimpin para pekerja dikurangi, tetapi betanggung jawab mereka
terhadap output tidak dirubah.
Otoritas yang dipersepsi kurang, dibaningkan dengan tanggung jawab
yang dipersepsi, hal mana terjadi karena keterlibatan staf.[9]
Jadi dari penjelasan diatas dapat kita pahami bahwa konflik lini
staf merupakan konflik yang terjadi di atara anggota lini dan anggota staf.
Konflik ini terjadi karena ada perbedaan pola pikir, perilaku serta perbedaan
pendapat mengenai sesuatu diantara keduanya. Anggota lini mempunyai pikiran
negatif tentang anggota staf, begitupun sebaliknya. Mungkin konflik ini bisa saja
tidak ada jika diantara kedua mempunyai pola pikiri positif dengan apa yang
terjadi di antara keduanya, serta bisa bekerja sama dalam suatu organisasi agar
bisa mencapi tujuan bersama.
C.
Konflik Sosial dan Budaya
a.
Definisi Konflik Sosial dan Budaya
Dalam setiap kelompok sosial selalu ada benih-benih pertentangan
antara individu dan individu, kelompok dan kelompok, individu atau kelompok
dengan pemerintah. Pertentangan ini biasanya berbentuk non fisik. Tetapi dapat
berkembang menjadi benturan fisik,kekerasan dan tidak berbentuk kekerasan.
Oleh karena itu konflik sosial merupakan perbedaan pikiran,
pandangan serta kepentingan seorang individu maupun kelompok dalam setiap
tindakan sosial yang dilakukannya.[10]
Budaya adalah norma, nilai-nilai, kebiasaan, dan terdisi yang
berkembang di masyarakat, diajarkan, dan dilaksanakan kepada para anggotanya
sehingga memengaruhi sikap dan perilaku para anggota masyarakat. Masyarakat
beragam jenisnya oleh karena itu budayanya beragam. Keragaman budaya
menimbulkan keberagaman sikap dan perilaku.
Setiap jenis budaya saling berinteraksi, saling berkomunikasi, dan
saling memengaruhi. Dalam interaksi tersebt, konflik antarbudaya dapat terjadi.
Stella Ting-Toomey desen California State University at Fullertion, AS
mendefinisikan konflik antar budaya sebagai berikut “Intercultural conflict
is defined as the perceived or actual incompatibility of values, norms,
processes, or goals between minimum of two cultural perties over content,
indentity, relation, and proceduralissues”. Konflik antar budaya merupakan
isu mengenai persepsi atau aktual inkompabilitas dari nilai-nilai, norma,
proses, hubungan dan prosedural.[11]
Dapat ditarik kesimpulan bahwa konflik budaya merupakan
pertentangan yang terjadi didalam masyarakat akibat perbedaan budaya.
Konflik sosial budaya merupakan konflik yang sering dialami oleh
sebagian masyarakat. Hal ini dapat mengakibatkan runtuhnya persatuan dan
kesatuan sedangkan di Indonesia sangat menjunjung tinggi nilai persatuan dan
kesatuan . Jadi kita sebagi warga Indonesia harus ikut berpartisipasi dalam
menjaga persatuan dan kesatuan dengan cara tidak menimbulkan koflik yang
berakibat runtuhnya persatuan dan kesatuan.
b.
Latar Belakang Terjadinya Konflik Sosial Budaya
Fenomena konflik sosial
budaya dilatar belakangi oleh berbagai faktor yaitu:
1)
Konflik sosial budaya timbul karena masyarakat terdiri atas
sejumlah kelompok yang mempunyai karakteristik yang berbeda satu sama lain.
2)
Kemiskinan bisa jadi pemicu terjadi konflik sosial budaya. Sosiolog
mengelompokan masyarakat menjadi golongan atas, golongan menengah, dan golongan
bawah.
3)
Adanya migrasi manusia dari suatu tempat ke tempat lainnya. Konflik
yang sering terjadi antar para migran dan penduduk asli suatu daerah.
4)
Konflik yang terjadi antar kelompok sosial yang mempunyai
karakteristik dan perilaku yang inklusif atau saling terpisah dan ingin
mendominasi kehidupan politik, ekonomi, dan kemasyarakatan.[12]
c.
Terminologi Budaya yang Kuat dan Sehat
Budaya kerja dalam suatu organisasi merupakan cerminan aktivitas
sehari-hari sumber daya manusia organisasi dalam menyelesaikan tugasnya.
Tjahjono (2011:138) menyatakan, budaya kerja yang dibutuhkan organisasi untuk
meningkatkan produktivitasnya adalah budaya organisasi yang kuat dan sehat,
yakni budaya yang tidak mudah diruntuhkan dan bernilia positif. Budaya yang
kuat bisa saja positif namun bisa juga negatif dan berbahaya. oleh karena itu,
dalam suatu organisai tidak cukup hanya tercipta budaya yang kuat tetapi tidak
sehat. Hal itu dapat menyebabkan nilai nilai kebaikan dan kebenaran dalam
organisasi menjadi hilang. Sebagai contoh, suatu organisasi yang tingkat
molornya tinggi dan telah berlangsung lama akan sulit dirubah sehingga hal itu
menjadi cerminan budaya dan termasuk budaya yang kuat, namun negatif
(kontraproduksi).
Supaya dapat terciptanya budaya organisasi yang kuat dan
sehat dibutuhkan kemampuan masing-masing kelompok untuk menciptakan hubungan
yang harmonis dalam suatu organisasi .berkaitan penyelisihan terhadap ide-ide,
pendapat, dan peraturan-peraturan yang berkembang dibutuhkan usaha dan kontrol
emosi untuk menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi.
Budaya organisasi yang
kuat dan sehat tidak terbentuk dengan sendirinya melainkan terbentuk karena
diciptakan oleh individu-individu atau organisasi. Budaya organisasi mempunyai
ciri-ciri sebagai berikut.
1.
Budaya bersifat dinamis, maka pemimpin (pelaku bisnis) wajib
mempen\rbarui serta mengembangkannya sesuai dengan tuntutan dan perubahan.
2.
Budaya bisa terbentuk dengan sengaja atau tidak, maka kita bisa
meembangun dan mengembangkan budaya yang kita inginkan atau harapkan.
3.
Budaya pada tingkatan implementasinya membutuhkan komitmen total
dari pihak top managemen.
Budaya
organisasi yang kuat dan sehat dapat diciptakan melalui cara bekerja sama
dnegan semua pihak. Manager organisasi dapat memperbarui budaya kerja
organisasi agar selalu sesuai dengan tujuan dan perkembangan zaman. Budaya yang
bersifat dinamis, karena itu budaya dapat diciptakan sendiri oleh anggota
organisasi dan diawali oleh manajernya.
Keberhasilan
organisasi dalam mencapai tujuannya ditentukan oleh keefektifan kerja sama
antar individu atau kelompok di dalamnya. Kerjasama yang efektif bergantung
pada kualitas dan hubungan antar individu atau kelompok pada suatu pekerjaan.
Kurangnya interaksi interpersonal berdampak pada tidak terbentuknya kerjasama
yang kohesif.[13]
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
1.
Jadi konflik individu dapat disebut juga sebagai konflik yang
terjadi antar individu karena adanya perbedaan dalam aspek-aspek tertentu.
Dimana konflik individu terdiri dari, konfli interpersonal dan intrapersonal.
2.
Konflik Kelompok merupakan konflik di dalam sebuah kelompok
tertentu yang melibatkan kelompok tersebut secara keseluruhan, maupun para
anggota individualnya.
3.
Konflik sosial budaya merupakan konflik yang sering dialami oleh
sebagian masyarakat. Hal ini dapat mengakibatkan runtuhnya persatuan dan
kesatuan
B.
Saran
Demikian makalah yang dapat kami susun dan kami sangat menyadari
makalah ini jauh dari kata sempurna. Maka kritik dan saran yang membangun demi
perbaikan dan pengembangan sangat kami harapkan. Dan semoga dengan adanya
makalah ini dapat menambah pengetahuan kita dan bermanfaat bagi pembaca. Amin.
DAFTAR PUSTAKA
Mustamin. studi konflik sosial, di desa bugis dan peperangan
kecamatan sape kabupaten bima tahun 2014. jurnal Ilmiah mandala Education,
oktober 2016 jime, Vol.2 No 2.
Wahyudi. manajemen konflik dalam
organisasi. Bandung: Alfabeta,2015.
Winardi. Manajemen Perilaku
Organisasi. Jakarta: Prenada Media,2004.
Wirawan. konflik dan Manajemen
Konflik. Jakarta: Salemba Humanika, 2010.
Puspita, Weni. Manajemen Konflik.
Yogyakarta: Deepublish, 2018.
Qomar, Mujamil. Manajemen
Pendidikan Islam. Jakarta: Erlangga, tt.
[1] Wahyudi, manajemen
konflik dalam organisasi, (Bandung: Alfabeta,2015), Hlm.,30
[2] Mujamil Qomar,
Manajemen Pendidikan Islam, (Jakarta: Erlangga, tt), Hlm., 237
[3] Wirawan, konflik
dan Manajemen Konflik, (Jakarta: Salemba Humanika, 2010), Hlm., 55-56
[4] Mujamil Qomar,
Manajemen Pendidikan Islam,Hlm., 30
[5] Wirawan, konflik
dan Manajemen Konflik, Hlm., 55
[6] Winardi, Manajemen
Perilaku Organisasi, (Jakarta: Prenada Media,2004 ), Hlm., 404
[7] Ibid, Hlm,.
411
[8] Wirawan, konflik
dan Manajemen Konflik, Hlm.,11
[9] Winardi, Manajemen
Perilaku Organisasi, (Jakarta: Prenada Media,2004 ), Hlm., 414-415.
[10] Mustamin,
studi konflik sosial, di desa bugis dan peperangan kecamatan sape kabupaten
bima tahun 2014, jurnal Ilmiah mandala Education, oktober 2016 jime, Vol.2 No
2, Hlm 185-186.
[11] Wirawan, konflik dan Manajemen Konflik,
Hlm., 101-102.
[12] Wirawan, konflik
dan Manajemen Konflik, Hlm.,81-82
[13] Weni Puspita,
Manajemen Konflik, (Yogyakarta: Deepublish, 2018), Hlm. 63-64.
