BAB I
PENDAHULUAN
1.
Latar Belakang
Islam
adalah agama dakwah. Usaha dakwah dimulai oleh Nabi Muhammad SAW, dialnjutkan
para sahabat, tabi;in, tabi’it tabi’in, sampai kepada para da’i di Indonesia.
Nabi Muhammad SAW sebagai pembawa risalah telah meletakkan dasar-dasar dakwah,
baik dari sisi makna, hukum, unsur,dan metode dakwah.
Bumi
berputar, tahun berganti dan kehidupan manusia cenderung pada kemajuan.
Berkembangnya kehidupan manusia ternyata turut membawa kompleksitas kehidupan.
Fenomena ketimpangan dan ketidak adilan sosial umumnya terjadi diseluruh
wilayah Indonesia. Lebih memilukan lagi ketika mendengar umat islam yang berada
diposisi sulit tersebut. Menarik kepembahasan dakwah tidak mungkin
menyelesaikan masalah yang sangat kompleks ini dengan metode ceramah di
mimbar-mimbar masjid. Asumsi bahwa tidak ada satu metode yang dapat
diimplementasikan diseluruh kondisi adalah benar.
Dakwah
terus saja menggunakan cara yang konvensional dan parsial, sehingga tidak mampu
menyelesaikan permasalahan umat yang semakin kompleks. Praktisi dan ahli dakwah
harus mengkaji ulang metode dakwah. Salah satu problem yang mendasar adalah
sebagian besar da’i atau ahli memaknai dakwah hanya sebatas penyiaran agama,
ceramah atau tabligh.
Pendekatan
induktif memang kurang populer di Indonesia, karena tidak jarang menunnjukkan
berbagai kekurangan dan kesalahan. Kesalahan mungkin saja dari sisi perumusan
masalah, penggunaan metode yang kurang tepat, hingga masalah teknis dilapangan.
Jika
menurut hadist Nabi SAW yang diriwayatkan oleh muslim bahwa dakwah induktif
dikenal dengan dakwah membutuhkan tindakan atau aksi. Usaha itu dapat dimulai
melalui pergeraskan atau membangun organmisasi bantuan sosial, pendidikan,
keterampilan dan sebagainya. Maka berangkat dari pendekatan induktif, sudah
seharusnya konsep dakwah ditinjau ulang, karena itu diskusi dimulai
denganmenjelaskan makna dakwah secara bahasa dan istilah, kemudian melihat ke
depan apakah makna tersebut sesuai dengan konteks sekarang. Pemaknaan dakwah
akan diperkuat dengan membahas hukum dan unsur-unsurnya.[1]
2.
Rumusan Masalah
a.
Bagaimana sistem dakwah ?
b.
Bagaimana unsur-unsur dakwah ?
3.
Tujuan
a.
Untuk menjelaskan sistem dakwah.
b.
Untuk menjelaskan
unsur-unsur dakwah.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Sistem Dakwah
Sistem menurut arti logat
adalah suatu kelompokunsur-unsur yang saling berhubungan membentuk satu
kesatuan kolektif. Maksud sistem adalah rangkaian kegiatan yang sambung,
bersambung saling berkaitan menjelmakan urutan yang logis dan tetap terikat
pada ikatan hubungan antar kegiatan masing-masing dalam rangkaiannya secara
menyeluruh.
Dari pengertian diatas
bahwa sistem adalah rangkaian kegiatan yang saling berhubungan satu dengan
lainnya. Dan jika dikaitkan dengan penerangan agama atau dakwah islam, sistem merupakan
kumpulan dari beberapa komponen dasar dalam usaha mewujudkan nilai-nilai islam
kepada umat.[2]
Kemudian disini sistem
itu dibagi menjadi 2 bagian yaitu, suprasistem
yaitu sistem yang lebih kompleks atau lebih besar yang terdiri dari banyak
komponen. Subsistem yaitu sistem yang lebih kecil yang mungkin merupakan
bagian dari sistem.[3]
Dengan demikian sistem
ini akan menjadi suatu alat yang penting untuk mengontrol dan mendorong
prinsip-prinsip dari bidang kebidang lainnya. Dan tidak perlu untuk mempublikasi
atau mentriplikasi penemuan prinsip yang sama dan berbeda, yang terisolir satu
sama lain. Pada saat yang sama dengan merumuskan yang sama pasti, teori sistem
umum akan mencegah dilakukannya analogi dangkal yang tak berguna bagi ilmu
pengetahuan.
Dari pengertian sistem diatas jika dikaitkan dengan sistem islam
dan sistem dakwah islam adalah merupakan ajaran yang bersumber dari wahyu ilahi
yang isi-isi wahyu itu sangat terkait dengan satu dan lainnya. Ini berarti
bahwa islam merupakan sistem yang lebih kompleks atau yang lebih luas dimana
didalamnya terdapat kompenen dakwah sebagai suatu sistem.[4]
Amrullah Achmad dalam “
Dakwah Islam dan perubahan sosial “ menjelaskan : “ Dakwah islam sebagai suatu
sistem tersendiri dari lima komponen dasar, pertama, komponen input (
masukan ) yang terdiri dari raw input, instrumental input yang kesemuanya
berfungsi memberikan informasi, energi dan materi yang menentukan eksistensi
sistem. Kedua, komponen konversi yang mengubah input menjadi output,
merealisir ajaran islam menjadi realitas sosio kultural yang diproses dalam
kegiatan administrasi dakwah ( organisasi, manajemen, kepemimpinan, komunikasi
dakwah dan sebagainya ).[5]
Ketiga, komponen
output ( keluaran ) yang merupakan hasil dakwah yaitu terciptanya realitas baru
menurut ukuran tujuan antara dari sistem yang bersumber dari Al-qur’an. Keempat,
komponen feedback ( umpan balik ) yang berfungsi memberikan pengaruh baik
yang positif maupun negatif terhadap sistem dakwah khususnya dan realitas sosio
kultural pada umumnya. Kelima, komponen lingkngan yang berfungsi sebagai
kenyataan yang hendak diubah ( sasaran ) atau memberikan pengaruh terhadap
sistem dakwah terutama memberikan masukan permasalahan yang perlu dipecahkan
yang menyangkut ideologi, politik, pendidikan, ekonomi, teknologi, ilmu, seni
dan sebagainya.[6]
Dari kutipan diatas maka
dapatlah disimpulkan bahwa sistem dakwah islam atau sistem penerapan agama
terdiri atas lima komponen dasar, yaitu :
1)
Komponen input ( masukan )
2)
Komponen konversi
3)
Komponen output ( keluaran )
4)
Komponen feedback ( umpa balik )
5)
Komponen lingkungan.[7]
Ada juga yang berpendapat bahwa subsistem yang menjadi
komponen-komponen dakwah adalah unsur-unsur dakwah itu sendiri.
·
Da’i ( subyek dakwah )
·
Mad’u ( mitra dakwah )
·
Maddah ( materi dakwah )
·
Wasilah ( media)
·
Thariqah ( metode )
·
Atsar (tujuan dakwah )
Semua unsur-unsur dakwah diatas saling berhubungan antara satu sama
lain, jika ada satu sistem saja yang terlepas maka akan mengganggu target
dakwah.[8]
B.
Unsur-unsur Dakwah
Dalam kegiatan dakwah tentu
memiliki unsur-unsur dakwah dalam setiap kegiatannya. Unsur dakwah tersebut
ialah Da’i (pelaku dakwah), Mad’u (Mitra dakwah), dan maddah (materi dakwah),
berikut pengertian dari unsur-unsur dakwah tersebut.[9]
a.
Da’i (Pelaku Dakwah)
Secara umum kata da’i ini sering disebut dengan sebutan mubaligh
yaitu orang yang menyampaikan ajaran Islam.Namun, da’i juga disebut sebagai
orang yang melaksanakan dakwah baik lisan, tulisan, maupun perbuatan yang
dilakukan baik secara individu, kelompok, atau lewat organisasi atau lembaga.[10]
Da’i adalah orang yang
melaksanakan dakwah dengan lisan, tulisan maupun perbuatan. Baik yang dilakukan
secara individu, kelompok ataupun melalui sebuah organisasi. Secara umum Da’i
juga sering disebut dengan mubaligh (orang yang menyampaikan ajaran Islam),
namun sebutan itu ruang lingkupnya sangat sempit.
Sikap dan tingkah laku
Da’i merupakan salah satu faktor penunjang keberhasilan dakwah, masyarakat
sebagai komunitas sosial lebih cenderung menilai karakter dan tabiat seseorang
dari pola tingkah laku keseharian yang dapat dilihat dan di dengar.Memang benar
ungkapan para ulama bahwa “lihatlah apa yang dikatakan dan janganlah melihat
siapa (orang) yang mengatakan”, namun alangkah baiknya jika tingkah laku dan
sikap Da’i juga merupakan cerminan dari perkataanya. Diantara sikap-sikap ideal
yang harus dimiliki seorang Da’i adalah :
1).
Berakhlak Mulia
Berbudi pekerti yang baik adalah syarat
mutlak yang harus dimiliki oleh siapapun terlebih seorang Da’i.
2).
Ing ngarso sung tulodho, Ing madyo mangun karso, tut wuri handayani
Ing ngarso sung tulodho
berarti seorang Da’i harus dapat menjadi teladan yang baik bagi masyarakat.
Bila Da’i menyuruh sasaran dakwah (Mad’u) berbuat kebaikan, Da’i tersebut harus
terlebih dahulu melaksanakannya, dan apabila menyuruh Mad’u menjauhi
kemungkaran maka Da’i tersebut harus lebih dahulu menjauhinya. Ing madyo mangun
karso berarti bila seorang Da’i berada ditengah tengah massa hendaklah
memberikan semangat agar mereka senantiasa mengikuti ajakan Da’i. Tut wuri
handayani berarti bila seorang Da’i bertempat dibelakang
Da’i hendaknya mengikuti
Mad’u dengan bimbingan bimbingan agar lebih meningkatkan keimanannya.
3).
Disiplin dan Bijaksana
Acuh tak acuh adalah perbuatan yang tidak
disukai oleh orang lain. Oleh karena itu, disiplin dalam arti luas sangat
dibutuhkan oleh seorang Da’i dalam mengemban tugasnya sebagai
muballig.Begitupun bijaksana dalam menjalankan tugas dalam menunjang keberhasilan
dakwah.
4).
Wara’ dan Berwibawa
Sikap Wara’ adalah
menjauhkan perbuatan perbuatan yang kurang berguna dan mengindahkan amal
shaleh, sikap ini dapat menimbulkan kewibawaan seorang Da’i.Sebab kewibawaan
merupakan faktor yang mempengaruhi seseorang untuk percaya menerima suatu
ajakan.
5).
Berpandangan Luas
Seorang Da’i dalam menentukan strategi
dakwahnya sangat perlu berpandangan jauh, tidak fanatik pada satu golongan saja
dan waspada dalam menjalankan tugasnya. Berpandangan luas dapat berarti bijaksana
dan arif dalam melihat dan menyusuaikan segala permasalahan yang tidak melihat
permasalahan hanya dari satu sudut pandang dan mengabaikan sudut pandang yang
lain.
6).
Berpengetahuan yang Cukup
Beberapa pengetahuan,
kecakapan dan keterampilan tentang dakwah sangat menentukan corak starategi
dakwah.Seorang Da’i seyogyanya dilengkapi dengan ilmu pengetahuan agar
pekerjaannya dapat mencapai hasil yang efektif dan efesien.Pengetahuan seorang
Da’i meliputi pengetahuan yang berhubungan dengan materi dakwah yang
disampaikan ilmu pengetahuan yang erat hubungannya dengan teknik teknik
dakwah.Sekurang kurangnya Da’i harus memiliki pengetahuan tentang Al-Qur’an dan
Hadis bahwa Al-Qur’an mempunyai petunjuk hidup, nasihat hidup bagi yang
membutuhkan, dan pelajaran yang oleh karena itu selalu menjadi rujukan dalam
menghadapi masalah.[11]
b. Mad’u (Penerima Dakwah)
Mad’u adalah manusia yang
menjadi sasaran dakwah, atau manusia penerima dakwah, baik secara individu
maupun secara kelompok. Dakwah bertujuan untuk mengajak mereka untuk mengikuti
ajaran agama Islam, sedangkan yang telah beragama Islam bertujuan untuk
mengingatkan kejalan kebaikan dan untuk meningkatkan kualitas iman, Islam, dan
Ihsan.
Menurut (Munir, 2006:23),
objek dakwah atau mad’u yaitu manusia yang menjadi sasaran dakwah, manusia yang
menerima dakwah, baik sebagai individu maupun sebagai kelompok, baik manusia
yang beragama Islam maupun tidak, atau bisa dikatakan sebagai manusia secara
keseluruhan. Kepada manusia yang belum beragama Islam, dakwah bertujuan untuk
mengajak mereka agar mengikuti ajaran agama Islam. Sedangkan kepada orang-orang
yang telah beragama Islam, dakwah bertujuan untuk meningkatkan kualitas iman,
Islam, dan Ihsan. Jadi objek dakwah (Mad’u)
adalah sasaran dari pelaku dakwah (Da’i) yang mana manusia tersebut
telah beragama Islam maupun yang belum beragama Islam.
Adapun objek dakwah dibedakan oleh
berbagai aspek yakni:[12]
1.
Sifat-sifat kepribadian yaitu adanya sifat-sifat manusia yang
penakut, pemarah, suka bergaul, peramah,
sombong, dan sebagainya.
2.
Intekegensi yaitu aspek kecerdasan seseorang mencakup kewaspadaan,
kemampuan belajar, kecepatan berfikir, kesanggupan untk mengambil yang tepat
dan cepat, kepandaian menangkap dan mengolah kesan-kesan atau masalah , dan
kemampuan mengambil kesimpulan.
3.
Pengetahuan (Knowledge)
4.
Keterampilan (skill)
5.
Nilai-nilai (values)
6.
Peranan (roles)
c. Maddah (Materi Dakwah)
Maddah dakwah
adalah isi pesan atau materi yang akan atau telah disampaikan oleh seorang Da’i
atau mubaligh. Dalam hal ini materi dakwah adalah ajaran Islam itu sendiri.
Dalam kegiatan dakwahnya tentu seorang Da’i harus mampu menentukan materi
dakwah yang tepat untuk sasaran mad’u nya.
Materi dakwah
dapat dikenali sebagai tema-tema pokok dakwah yang dikembangkan, kegiatan
pembimbingan amalan (riydhoh), kegiatan pendampingan pengembangan masyarakat,
pendampingan pengembangan managemen institusi dakwah, terdiri dari (Saepullah,
2016:85) :
1). Fiqh/ibadah
2). Akhlak dan Tasawuf
3). Kalam/aqidah
4). Muamalah/kemasyarakatan
5). Al-Qur’an Hadist (qiroah, tilawah, kitabah, tahfidh, dan
tafsir).
Materi dakwah
dipetakan berdasarkan karateristik sebagai berikut (Saepullah, 2016:85) :
a). Bersifat umum (materi tidak beraturan), seperti tabligh/ceramah
umum
b). Bersifat ngahanca (materi dakwah terstruktur) dimajelis
ta’lim/masjid
c). Bersifat kulikuler (madrasah diniyah)
d).Bersifat ritual, seperti tilawah al-qur’an (deresan yasin),
shalawatan, tahlilan, marhabanan, istighasah, dzikir, dan lain-lain
e).Bersifat perkaderan, seperti pelatihan keterampilan (life
skill), dan sebagainya.
d. Wasilah (Media Dakwah)
Wasilah atau
yang sering disebut dengan media dakwah adalah alat yang digunakan seorang Da’i
untuk menyampaikan materi dakwah (ajaran Islam) kepada Mad’u nya.untuk
menyampaikan ajaran Islam kepada umat, dakwah dapat menggunakan berbagai media.
Hamzah Ya’qub membagi wasilah dakwah menjadi lima macam:
1) Lisan adalah media dakwah yang paling sederhana. Dengan
menggunakan lisannya seorang Da’i bisa menyampaikan ajaran Islam kepada Mad’u.
2) Tulisan juga bisa menjadi media bagi seorang Da’i dalam
menyampaikan dakwanya. Bahkan dengan menggunakan media tulisan ini Da’i bisa
menyampaikan materi dakwah kepada Mad’u nya lebih efektif.
3) Lukisan adalah media dakwah melalui sebuah gambar, karikatur
atau sebagainya.
4) Audio visual adalah
media dakwah yang dapat merangsang indra pendengaran, penglihatan bahkan
dua-duanya. Contohnya seperti televisi, video slide, internet, dan sebagainya.
5) Akhlak adalah media dakwah melalui perbuatan-perbuatan nyata
yang mencerminkan ajaran Islam yang secara langsung dapat dilihat dan didengarkan
oleh Mad’u.
e. Thariqah ( metode )
Metode dakwah
adalah cara-cara tertentu yang dipilih atas pertimbangan akspetabilitas dari
masyarakat dakwah sebagai berikut (Sefullah, 2016: 86) :
1). Pengguanaan bahasa pengantar (daerah atau nasioanl)
2). Pemilihan tema pokok bahasa yang dipandang kontekstual
3). Pemilihan cara berpakaian (kostum)
4). Menggunakan institusi yang ada dan dipercaya oleh masyarakat
atau membentuk institusi baru
5). Menyelenggarakan pelatihan berbasis masalah yang berkembang.
f. Tujuan Dakwah
Menurut Bambang,
Menyebarkan ajaran Islam memiliki tujuan untuk menciptakan suatu tatanan
kehidupan individu dan masyarakat yang aman, dan sejahtera. Suatu tujuan dakwah
seyogyanya dapat dicermati dengan baik, agar tidak disalah artikan dan tidak
menimbulkan kekeliruan.
Aktivitas dakwah
dilakukan dengan senantiasa mengharapkan rida Allah swt. Dalam kehidupan yang
harus terus menerus mengabadikan berbagai kebijakan dakwah Nabi. Menurut
Bambang Ma’arif (2010:16-30) secara sistematis, tujuan dakwah adalah:
a.
Tazkiyatu I-Nafs
Yakni membersihkan jiwa masyarakat dari noda-noda syirik dan
pengaruh- pengaruh kepercayaan yang menyimpang dari akidah Islam. Suatu
aktivitas dakwah diarahkan untuk mencerahkan batin individu dan kelompok, serta
menemukan keseimbangan kehidupan yang dinamis.
b.
Mengembangkan kemampuan baca tulis.
Mengembangkan kemampuan dasar masyarakat meliputi kemampuan
membaca, menulis, dan memahami makna A-quran serta sunah Nabi Saw.
c.
Membimbing pengalaman ibadah.
Dengan adanya dakwah dapat membimbing umat Islam agar ibadahnya
menjadi lebih baik. Ibadah menjadi landasan bagi perkembangan kehidupan
masyarakat untuk tetap damai, maju, dan selamat didunia serta akhirat. Meski
kondisi umat Islam kini masih banyak yang tertinggal, bila dakwah berjalan
secara damai, akan mendapatkan jalan baru dan tidak akan berkiblat oleh orang
Barat, Timur, dan Afrika.
d.
Meningkatkan kesejahteraan.
Dakwah pada umumnya membawa umat Islam pada peningkatan
kesejahteraan, baik sosial, ekonomi, maupun pendidikan. Semua itu akan tercipta
bila dakwah mampu mendorong masyarakata muslim memilih etos kerja: giat,
perhitungan, menepati janji, menjamin kualitas, dan bersama-sama memelihara
kebajikan.[13]
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Sistem menurut arti logat adalah
suatu kelompokunsur-unsur yang saling berhubungan membentuk satu kesatuan
kolektif. Maksud sistem adalah rangkaian kegiatan yang sambung, bersambung
saling berkaitan menjelmakan urutan yang logis dan tetap terikat pada ikatan
hubungan antar kegiatan masing-masing dalam rangkaiannya secara menyeluruh.
Adapun
unsur-unsur dakwah, antara lain :
·
Da’i ( subyek dakwah )
·
Mad’u ( mitra dakwah )
·
Maddah ( materi dakwah )
·
Wasilah ( media)
·
Thariqah ( metode )
·
Atsar (tujuan dakwah )
B.
Saran
Agar pembaca diharapkan dapat memahami tujuan pendidikan dalam
perspektif islam. Dalam pembuatan makalah ini,kami menyadari bahwa masih banyak
kekurangan dalam pembuatannya.Maka dari itu,kami mengharapkan kritik dan saran
dari dosen dan teman-teman agar penulisan makalah kami bisa lebih baik lagi.
DAFTAR RUJUKAN
Achmad
Amrullah, Dakwah Islam dan Perubahan Sosial, yogyakarta : primaduta,
1983
Hasan
Mohammad, Buku Ajar Ilmu Dakwah, Pamekasan : STAIN Pmk Press, 2000
Kusnawan Aep, Dimensi Ilmu Dakwah, Bandung : Widya
Padjadjaran, 2009
Nasiruddin
Razak, Metodologi Dakwah, Semarang : Toha Putra, 1976
Ridla M.Rosyid
dkk, Pengantar Ilmu Dakwah, Yogjakarta : Samudra biru, 2017
[1] M.Rosyid Ridla dkk, Pengantar Ilmu Dakwah, ( Yogjakarta :
Samudra biru, 2017 ) hlm 3
[2] Razak Nasiruddin, Metodologi Dakwah, ( Semarang : Toha Putra,
1976 ), hlm 52
[3] Mohammad Hasan, Buku Ajar Ilmu Dakwah, ( Pamekasan : STAIN Pmk
Press, 2000 ), hlm, 33
[4] Mohammad Hasan, Buku Ajar Ilmu Dakwah, ( Pamekasan : STAIN Pmk
Press, 2000 ), hlm, 33
[5] Amrullah Achmad, Dakwah Islam dan Perubahan Sosial, ( yogyakarta
: primaduta, 1983 ), hlm 14
[6] Aep Kusnawan, Dimensi Ilmu Dakwah, ( Bandung : Widya
Padjadjaran, 2009 ) hlm 15
[7] Ibid, hlm 16
[8] M.Rosyid Ridla dkk, Pengantar Ilmu Dakwah, ( Yogjakarta :
Samudra biru, 2017 ) hlm 8
[9] ibid
[10] Amrullah Achmad, Dakwah Islam dan Perubahan Sosial, (
yogyakarta : primaduta, 1983 ), hlm 17
[11] Aep Kusnawan, Dimensi Ilmu Dakwah, ( Bandung : Widya
Padjadjaran, 2009 ) hlm 19
[12] Amrullah Achmad, Dakwah Islam dan Perubahan Sosial, (
yogyakarta : primaduta, 1983 ), hlm 15
[13] M.Rosyid Ridla dkk, Pengantar Ilmu Dakwah, ( Yogjakarta :
Samudra biru, 2017 ) hlm 33