Wednesday, 20 March 2019

Bagaimana sistem dakwah


BAB I
PENDAHULUAN

1.             Latar Belakang
Islam adalah agama dakwah. Usaha dakwah dimulai oleh Nabi Muhammad SAW, dialnjutkan para sahabat, tabi;in, tabi’it tabi’in, sampai kepada para da’i di Indonesia. Nabi Muhammad SAW sebagai pembawa risalah telah meletakkan dasar-dasar dakwah, baik dari sisi makna, hukum, unsur,dan metode dakwah.
Bumi berputar, tahun berganti dan kehidupan manusia cenderung pada kemajuan. Berkembangnya kehidupan manusia ternyata turut membawa kompleksitas kehidupan. Fenomena ketimpangan dan ketidak adilan sosial umumnya terjadi diseluruh wilayah Indonesia. Lebih memilukan lagi ketika mendengar umat islam yang berada diposisi sulit tersebut. Menarik kepembahasan dakwah tidak mungkin menyelesaikan masalah yang sangat kompleks ini dengan metode ceramah di mimbar-mimbar masjid. Asumsi bahwa tidak ada satu metode yang dapat diimplementasikan diseluruh kondisi adalah benar.
Dakwah terus saja menggunakan cara yang konvensional dan parsial, sehingga tidak mampu menyelesaikan permasalahan umat yang semakin kompleks. Praktisi dan ahli dakwah harus mengkaji ulang metode dakwah. Salah satu problem yang mendasar adalah sebagian besar da’i atau ahli memaknai dakwah hanya sebatas penyiaran agama, ceramah atau tabligh.
Pendekatan induktif memang kurang populer di Indonesia, karena tidak jarang menunnjukkan berbagai kekurangan dan kesalahan. Kesalahan mungkin saja dari sisi perumusan masalah, penggunaan metode yang kurang tepat, hingga masalah teknis dilapangan.
Jika menurut hadist Nabi SAW yang diriwayatkan oleh muslim bahwa dakwah induktif dikenal dengan dakwah membutuhkan tindakan atau aksi. Usaha itu dapat dimulai melalui pergeraskan atau membangun organmisasi bantuan sosial, pendidikan, keterampilan dan sebagainya. Maka berangkat dari pendekatan induktif, sudah seharusnya konsep dakwah ditinjau ulang, karena itu diskusi dimulai denganmenjelaskan makna dakwah secara bahasa dan istilah, kemudian melihat ke depan apakah makna tersebut sesuai dengan konteks sekarang. Pemaknaan dakwah akan diperkuat dengan membahas hukum dan unsur-unsurnya.[1]

2.             Rumusan Masalah
a.       Bagaimana sistem dakwah ?
b.      Bagaimana unsur-unsur dakwah ?

3.             Tujuan
a.       Untuk menjelaskan sistem dakwah.
b.      Untuk menjelaskan  unsur-unsur dakwah.













BAB II
PEMBAHASAN

A.           Sistem Dakwah
     Sistem menurut arti logat adalah suatu kelompokunsur-unsur yang saling berhubungan membentuk satu kesatuan kolektif. Maksud sistem adalah rangkaian kegiatan yang sambung, bersambung saling berkaitan menjelmakan urutan yang logis dan tetap terikat pada ikatan hubungan antar kegiatan masing-masing dalam rangkaiannya secara menyeluruh.
     Dari pengertian diatas bahwa sistem adalah rangkaian kegiatan yang saling berhubungan satu dengan lainnya. Dan jika dikaitkan dengan penerangan agama atau dakwah islam, sistem merupakan kumpulan dari beberapa komponen dasar dalam usaha mewujudkan nilai-nilai islam kepada umat.[2]
     Kemudian disini sistem itu dibagi menjadi 2 bagian yaitu,  suprasistem yaitu sistem yang lebih kompleks atau lebih besar yang terdiri dari banyak komponen. Subsistem yaitu sistem yang lebih kecil yang mungkin merupakan bagian dari sistem.[3]
     Dengan demikian sistem ini akan menjadi suatu alat yang penting untuk mengontrol dan mendorong prinsip-prinsip dari bidang kebidang lainnya. Dan tidak perlu untuk mempublikasi atau mentriplikasi penemuan prinsip yang sama dan berbeda, yang terisolir satu sama lain. Pada saat yang sama dengan merumuskan yang sama pasti, teori sistem umum akan mencegah dilakukannya analogi dangkal yang tak berguna bagi ilmu pengetahuan.
Dari pengertian sistem diatas jika dikaitkan dengan sistem islam dan sistem dakwah islam adalah merupakan ajaran yang bersumber dari wahyu ilahi yang isi-isi wahyu itu sangat terkait dengan satu dan lainnya. Ini berarti bahwa islam merupakan sistem yang lebih kompleks atau yang lebih luas dimana didalamnya terdapat kompenen dakwah sebagai suatu sistem.[4]
     Amrullah Achmad dalam “ Dakwah Islam dan perubahan sosial “ menjelaskan : “ Dakwah islam sebagai suatu sistem tersendiri dari lima komponen dasar, pertama, komponen input ( masukan ) yang terdiri dari raw input, instrumental input yang kesemuanya berfungsi memberikan informasi, energi dan materi yang menentukan eksistensi sistem. Kedua, komponen konversi yang mengubah input menjadi output, merealisir ajaran islam menjadi realitas sosio kultural yang diproses dalam kegiatan administrasi dakwah ( organisasi, manajemen, kepemimpinan, komunikasi dakwah dan sebagainya ).[5]
     Ketiga, komponen output ( keluaran ) yang merupakan hasil dakwah yaitu terciptanya realitas baru menurut ukuran tujuan antara dari sistem yang bersumber dari Al-qur’an. Keempat, komponen feedback ( umpan balik ) yang berfungsi memberikan pengaruh baik yang positif maupun negatif terhadap sistem dakwah khususnya dan realitas sosio kultural pada umumnya. Kelima, komponen lingkngan yang berfungsi sebagai kenyataan yang hendak diubah ( sasaran ) atau memberikan pengaruh terhadap sistem dakwah terutama memberikan masukan permasalahan yang perlu dipecahkan yang menyangkut ideologi, politik, pendidikan, ekonomi, teknologi, ilmu, seni dan sebagainya.[6]
     Dari kutipan diatas maka dapatlah disimpulkan bahwa sistem dakwah islam atau sistem penerapan agama terdiri atas lima komponen dasar, yaitu :
1)      Komponen input ( masukan )
2)      Komponen  konversi
3)      Komponen output ( keluaran )
4)      Komponen feedback ( umpa balik )
5)      Komponen lingkungan.[7]
Ada juga yang berpendapat bahwa subsistem yang menjadi komponen-komponen dakwah adalah unsur-unsur dakwah itu sendiri.
·           Da’i ( subyek dakwah )
·           Mad’u ( mitra dakwah )
·           Maddah ( materi dakwah )
·           Wasilah ( media)
·           Thariqah ( metode )
·           Atsar (tujuan dakwah )
Semua unsur-unsur dakwah diatas saling berhubungan antara satu sama lain, jika ada satu sistem saja yang terlepas maka akan mengganggu target dakwah.[8]

B.            Unsur-unsur Dakwah
     Dalam kegiatan dakwah tentu memiliki unsur-unsur dakwah dalam setiap kegiatannya. Unsur dakwah tersebut ialah Da’i (pelaku dakwah), Mad’u (Mitra dakwah), dan maddah (materi dakwah), berikut pengertian dari unsur-unsur dakwah tersebut.[9]
a.      Da’i (Pelaku Dakwah)
Secara umum kata da’i ini sering disebut dengan sebutan mubaligh yaitu orang yang menyampaikan ajaran Islam.Namun, da’i juga disebut sebagai orang yang melaksanakan dakwah baik lisan, tulisan, maupun perbuatan yang dilakukan baik secara individu, kelompok, atau lewat organisasi atau lembaga.[10]
     Da’i adalah orang yang melaksanakan dakwah dengan lisan, tulisan maupun perbuatan. Baik yang dilakukan secara individu, kelompok ataupun melalui sebuah organisasi. Secara umum Da’i juga sering disebut dengan mubaligh (orang yang menyampaikan ajaran Islam), namun sebutan itu ruang lingkupnya sangat sempit. 
     Sikap dan tingkah laku Da’i merupakan salah satu faktor penunjang keberhasilan dakwah, masyarakat sebagai komunitas sosial lebih cenderung menilai karakter dan tabiat seseorang dari pola tingkah laku keseharian yang dapat dilihat dan di dengar.Memang benar ungkapan para ulama bahwa “lihatlah apa yang dikatakan dan janganlah melihat siapa (orang) yang mengatakan”, namun alangkah baiknya jika tingkah laku dan sikap Da’i juga merupakan cerminan dari perkataanya. Diantara sikap-sikap ideal yang harus dimiliki seorang Da’i adalah :
1). Berakhlak Mulia
     Berbudi pekerti yang baik adalah syarat mutlak yang harus dimiliki oleh siapapun terlebih seorang Da’i.
2). Ing ngarso sung tulodho, Ing madyo mangun karso, tut wuri handayani
     Ing ngarso sung tulodho berarti seorang Da’i harus dapat menjadi teladan yang baik bagi masyarakat. Bila Da’i menyuruh sasaran dakwah (Mad’u) berbuat kebaikan, Da’i tersebut harus terlebih dahulu melaksanakannya, dan apabila menyuruh Mad’u menjauhi kemungkaran maka Da’i tersebut harus lebih dahulu menjauhinya. Ing madyo mangun karso berarti bila seorang Da’i berada ditengah tengah massa hendaklah memberikan semangat agar mereka senantiasa mengikuti ajakan Da’i. Tut wuri handayani berarti bila seorang Da’i bertempat dibelakang
     Da’i hendaknya mengikuti Mad’u dengan bimbingan bimbingan agar lebih meningkatkan keimanannya. 
3). Disiplin dan Bijaksana
     Acuh tak acuh adalah perbuatan yang tidak disukai oleh orang lain. Oleh karena itu, disiplin dalam arti luas sangat dibutuhkan oleh seorang Da’i dalam mengemban tugasnya sebagai muballig.Begitupun bijaksana dalam menjalankan tugas dalam menunjang keberhasilan dakwah.
4). Wara’ dan Berwibawa
     Sikap Wara’ adalah menjauhkan perbuatan perbuatan yang kurang berguna dan mengindahkan amal shaleh, sikap ini dapat menimbulkan kewibawaan seorang Da’i.Sebab kewibawaan merupakan faktor yang mempengaruhi seseorang untuk percaya menerima suatu ajakan.


5). Berpandangan Luas 
     Seorang Da’i dalam menentukan strategi dakwahnya sangat perlu berpandangan jauh, tidak fanatik pada satu golongan saja dan waspada dalam menjalankan tugasnya. Berpandangan luas dapat berarti bijaksana dan arif dalam melihat dan menyusuaikan segala permasalahan yang tidak melihat permasalahan hanya dari satu sudut pandang dan mengabaikan sudut pandang yang lain.
6). Berpengetahuan yang Cukup
     Beberapa pengetahuan, kecakapan dan keterampilan tentang dakwah sangat menentukan corak starategi dakwah.Seorang Da’i seyogyanya dilengkapi dengan ilmu pengetahuan agar pekerjaannya dapat mencapai hasil yang efektif dan efesien.Pengetahuan seorang Da’i meliputi pengetahuan yang berhubungan dengan materi dakwah yang disampaikan ilmu pengetahuan yang erat hubungannya dengan teknik teknik dakwah.Sekurang kurangnya Da’i harus memiliki pengetahuan tentang Al-Qur’an dan Hadis bahwa Al-Qur’an mempunyai petunjuk hidup, nasihat hidup bagi yang membutuhkan, dan pelajaran yang oleh karena itu selalu menjadi rujukan dalam menghadapi masalah.[11]

b. Mad’u (Penerima Dakwah)
     Mad’u adalah manusia yang menjadi sasaran dakwah, atau manusia penerima dakwah, baik secara individu maupun secara kelompok. Dakwah bertujuan untuk mengajak mereka untuk mengikuti ajaran agama Islam, sedangkan yang telah beragama Islam bertujuan untuk mengingatkan kejalan kebaikan dan untuk meningkatkan kualitas iman, Islam, dan Ihsan.
     Menurut (Munir, 2006:23), objek dakwah atau mad’u yaitu manusia yang menjadi sasaran dakwah, manusia yang menerima dakwah, baik sebagai individu maupun sebagai kelompok, baik manusia yang beragama Islam maupun tidak, atau bisa dikatakan sebagai manusia secara keseluruhan. Kepada manusia yang belum beragama Islam, dakwah bertujuan untuk mengajak mereka agar mengikuti ajaran agama Islam. Sedangkan kepada orang-orang yang telah beragama Islam, dakwah bertujuan untuk meningkatkan kualitas iman, Islam, dan Ihsan. Jadi objek dakwah (Mad’u)  adalah sasaran dari pelaku dakwah (Da’i) yang mana manusia tersebut telah beragama Islam maupun yang belum beragama Islam.
              Adapun objek dakwah dibedakan oleh berbagai aspek yakni:[12]
1.        Sifat-sifat kepribadian yaitu adanya sifat-sifat manusia yang penakut, pemarah,  suka bergaul, peramah, sombong, dan sebagainya.
2.        Intekegensi yaitu aspek kecerdasan seseorang mencakup kewaspadaan, kemampuan belajar, kecepatan berfikir, kesanggupan untk mengambil yang tepat dan cepat, kepandaian menangkap dan mengolah kesan-kesan atau masalah , dan kemampuan mengambil kesimpulan.
3.        Pengetahuan (Knowledge)
4.        Keterampilan (skill)
5.        Nilai-nilai (values)
6.        Peranan (roles)

c. Maddah (Materi Dakwah)
              Maddah dakwah adalah isi pesan atau materi yang akan atau telah disampaikan oleh seorang Da’i atau mubaligh. Dalam hal ini materi dakwah adalah ajaran Islam itu sendiri. Dalam kegiatan dakwahnya tentu seorang Da’i harus mampu menentukan materi dakwah yang tepat untuk sasaran mad’u nya. 
              Materi dakwah dapat dikenali sebagai tema-tema pokok dakwah yang dikembangkan, kegiatan pembimbingan amalan (riydhoh), kegiatan pendampingan pengembangan masyarakat, pendampingan pengembangan managemen institusi dakwah, terdiri dari (Saepullah, 2016:85) :
1). Fiqh/ibadah
2). Akhlak dan Tasawuf
3). Kalam/aqidah
4). Muamalah/kemasyarakatan
5). Al-Qur’an Hadist (qiroah, tilawah, kitabah, tahfidh, dan tafsir). 
              Materi dakwah dipetakan berdasarkan karateristik sebagai berikut (Saepullah, 2016:85) :
a). Bersifat umum (materi tidak beraturan), seperti tabligh/ceramah umum
b). Bersifat ngahanca (materi dakwah terstruktur) dimajelis ta’lim/masjid 
c). Bersifat kulikuler (madrasah diniyah)
d).Bersifat ritual, seperti tilawah al-qur’an (deresan yasin), shalawatan, tahlilan, marhabanan, istighasah, dzikir, dan lain-lain
e).Bersifat perkaderan, seperti pelatihan keterampilan (life skill), dan sebagainya.

d. Wasilah (Media Dakwah)
              Wasilah atau yang sering disebut dengan media dakwah adalah alat yang digunakan seorang Da’i untuk menyampaikan materi dakwah (ajaran Islam) kepada Mad’u nya.untuk menyampaikan ajaran Islam kepada umat, dakwah dapat menggunakan berbagai media. Hamzah Ya’qub membagi wasilah dakwah menjadi lima macam:
1) Lisan adalah media dakwah yang paling sederhana. Dengan menggunakan lisannya seorang Da’i bisa menyampaikan ajaran Islam kepada Mad’u.
2) Tulisan juga bisa menjadi media bagi seorang Da’i dalam menyampaikan dakwanya. Bahkan dengan menggunakan media tulisan ini Da’i bisa menyampaikan materi dakwah kepada Mad’u nya lebih efektif.
3) Lukisan adalah media dakwah melalui sebuah gambar, karikatur atau sebagainya.
  4) Audio visual adalah media dakwah yang dapat merangsang indra pendengaran, penglihatan bahkan dua-duanya. Contohnya seperti televisi, video slide, internet, dan sebagainya.
5) Akhlak adalah media dakwah melalui perbuatan-perbuatan nyata yang mencerminkan ajaran Islam yang secara langsung dapat dilihat dan didengarkan oleh Mad’u.
e. Thariqah ( metode )
              Metode dakwah adalah cara-cara tertentu yang dipilih atas pertimbangan akspetabilitas dari masyarakat dakwah sebagai berikut (Sefullah, 2016: 86) :
1). Pengguanaan bahasa pengantar (daerah atau nasioanl)
2). Pemilihan tema pokok bahasa yang dipandang kontekstual
3). Pemilihan cara berpakaian (kostum)
4). Menggunakan institusi yang ada dan dipercaya oleh masyarakat atau membentuk  institusi baru
5). Menyelenggarakan pelatihan berbasis masalah yang berkembang.

f. Tujuan Dakwah
              Menurut Bambang, Menyebarkan ajaran Islam memiliki tujuan untuk menciptakan suatu tatanan kehidupan individu dan masyarakat yang aman, dan sejahtera. Suatu tujuan dakwah seyogyanya dapat dicermati dengan baik, agar tidak disalah artikan dan tidak menimbulkan kekeliruan. 
              Aktivitas dakwah dilakukan dengan senantiasa mengharapkan rida Allah swt. Dalam kehidupan yang harus terus menerus mengabadikan berbagai kebijakan dakwah Nabi. Menurut Bambang Ma’arif (2010:16-30) secara sistematis, tujuan dakwah adalah: 
a.       Tazkiyatu I-Nafs
Yakni membersihkan jiwa masyarakat dari noda-noda syirik dan pengaruh- pengaruh kepercayaan yang menyimpang dari akidah Islam. Suatu aktivitas dakwah diarahkan untuk mencerahkan batin individu dan kelompok, serta menemukan keseimbangan kehidupan yang dinamis.
b.      Mengembangkan kemampuan baca tulis.
Mengembangkan kemampuan dasar masyarakat meliputi kemampuan membaca, menulis, dan memahami makna A-quran serta sunah Nabi Saw.
c.       Membimbing pengalaman ibadah.
Dengan adanya dakwah dapat membimbing umat Islam agar ibadahnya menjadi lebih baik. Ibadah menjadi landasan bagi perkembangan kehidupan masyarakat untuk tetap damai, maju, dan selamat didunia serta akhirat. Meski kondisi umat Islam kini masih banyak yang tertinggal, bila dakwah berjalan secara damai, akan mendapatkan jalan baru dan tidak akan berkiblat oleh orang Barat, Timur, dan Afrika.
d.      Meningkatkan kesejahteraan.
Dakwah pada umumnya membawa umat Islam pada peningkatan kesejahteraan, baik sosial, ekonomi, maupun pendidikan. Semua itu akan tercipta bila dakwah mampu mendorong masyarakata muslim memilih etos kerja: giat, perhitungan, menepati janji, menjamin kualitas, dan bersama-sama memelihara kebajikan.[13]























BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
              Sistem menurut arti logat adalah suatu kelompokunsur-unsur yang saling berhubungan membentuk satu kesatuan kolektif. Maksud sistem adalah rangkaian kegiatan yang sambung, bersambung saling berkaitan menjelmakan urutan yang logis dan tetap terikat pada ikatan hubungan antar kegiatan masing-masing dalam rangkaiannya secara menyeluruh.
Adapun unsur-unsur dakwah, antara lain :
·           Da’i ( subyek dakwah )
·           Mad’u ( mitra dakwah )
·           Maddah ( materi dakwah )
·           Wasilah ( media)
·           Thariqah ( metode )
·           Atsar (tujuan dakwah )

B.     Saran
Agar pembaca diharapkan dapat memahami tujuan pendidikan dalam perspektif islam. Dalam pembuatan makalah ini,kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam pembuatannya.Maka dari itu,kami mengharapkan kritik dan saran dari dosen dan teman-teman agar penulisan makalah kami bisa lebih baik lagi.




DAFTAR RUJUKAN

Achmad Amrullah, Dakwah Islam dan Perubahan Sosial, yogyakarta : primaduta, 1983
Hasan Mohammad, Buku Ajar Ilmu Dakwah, Pamekasan : STAIN Pmk Press, 2000
Kusnawan Aep, Dimensi Ilmu Dakwah, Bandung : Widya Padjadjaran, 2009
Nasiruddin Razak, Metodologi Dakwah, Semarang : Toha Putra, 1976
Ridla M.Rosyid dkk, Pengantar Ilmu Dakwah, Yogjakarta : Samudra biru, 2017




[1] M.Rosyid Ridla dkk, Pengantar Ilmu Dakwah, ( Yogjakarta : Samudra biru, 2017 ) hlm 3
[2] Razak Nasiruddin, Metodologi Dakwah, ( Semarang : Toha Putra, 1976 ), hlm 52
[3] Mohammad Hasan, Buku Ajar Ilmu Dakwah, ( Pamekasan : STAIN Pmk Press, 2000 ), hlm, 33
[4] Mohammad Hasan, Buku Ajar Ilmu Dakwah, ( Pamekasan : STAIN Pmk Press, 2000 ), hlm, 33
[5] Amrullah Achmad, Dakwah Islam dan Perubahan Sosial, ( yogyakarta : primaduta, 1983 ), hlm 14
[6] Aep Kusnawan, Dimensi Ilmu Dakwah, ( Bandung : Widya Padjadjaran, 2009 ) hlm 15
[7] Ibid, hlm 16
[8] M.Rosyid Ridla dkk, Pengantar Ilmu Dakwah, ( Yogjakarta : Samudra biru, 2017 ) hlm 8
[9] ibid
[10] Amrullah Achmad, Dakwah Islam dan Perubahan Sosial, ( yogyakarta : primaduta, 1983 ), hlm 17
[11] Aep Kusnawan, Dimensi Ilmu Dakwah, ( Bandung : Widya Padjadjaran, 2009 ) hlm 19
[12] Amrullah Achmad, Dakwah Islam dan Perubahan Sosial, ( yogyakarta : primaduta, 1983 ), hlm 15
[13] M.Rosyid Ridla dkk, Pengantar Ilmu Dakwah, ( Yogjakarta : Samudra biru, 2017 ) hlm 33