Thursday, 14 March 2019

PENGERTIAN DAN HUBUNGAN SEMANTIK DENGAN DISIPLIN ILMU LAIN


PENGERTIAN DAN HUBUNGAN SEMANTIK
DENGAN DISIPLIN ILMU LAIN
RESUME
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Semantik
Yang diampu oleh Ibu Masyithah Maghfirah Rizam, SS, M. P.D

Oleh:
Nur Hayati
(20170701072080)



PROGRAM STUDI TADRIS BAHASA INDONESIA
JURUSAN TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI MADURA
2019
Pengertian dan Hubungan Semantik dengan Disiplin Ilmu Lain
A.    Pengertian Semantik
Kata semantik dalam bahasa Indonesia (Inggris: semantics) berasal dari bahasa Yunani sema (kata benda yang berarti “tanda” atau “lambang”). Kata kerjanya adalah semaino yang berarti “menandai” atau “melambangkan”. Yang dimaksud dengan tanda atau lambang di sini sebagai padanan kata sema itu adalah tanda linguistik (Prancis: signe linguistic).[1] Seperti yang dikemukakan oleh Ferdinand de Saussure (1996), yaitu yang terdiri dari dua komponen yaitu:   (1) komponen signifikan “yang mengartikan”, yang berwujud bentuk-bentuk bunyi bahasa dan (2) komponen signifie “yang diartikan”, yang wujudnya berupa pengertian atau konsep (yang dimiliki oleh signifikan. Umpamanya tanda linguistik berupa <meja>, terdiri dari komponen signifikan, yakni berupa runtutan fonem /m/, /e/, /j/, /a/; dan komponen signiefinya berupa konsep atau makna ‘sejenis perabot kantor dan rumah tangga’.[2]
Istilah semantik juga mengandung makna to signify yang berarti “memaknai”. Sebagai istilah, semantik mengandung pengertian studi atau kajian tentang makna bahasa. Dengan demikian, semantik merupakan bagian dari linguistik. Seperti halnya bunyi dan tata bahasa, komponen makna dalam hal ini menduduki tingkatan pertama, tata bahasa pada tingkatan kedua, maka komponen makna menduduki tingkat paling akhir. Hubungan ketiga komponen ini sesuai dengan kenyataan bahwa (a) bahasa pada awalnya merupakan bunyi-bunyi abstrak yang mengacu pada adanya lambang-lambang tertentu, (b) lambang-lambang merupakan seperangkat sistem yang memiliki tataran dan hubungan tertentu, dan (c) seperangkat lambang yang memiliki bentuk dan hubungan itu mengasosiasikan adanya makna tertentu.[3]  
Kata semantik ini kemudian disepakati sebagai istilah yang digunakan untuk bidang linguistik yang mempelajari hubuungan antara tanda-tanda linguistik dengan hal-hal yang ditandainya. Atau dengan kata lain, bidang studi dalam linguistik yang mempelajari makna atau arti dalam bahasa. Oleh karena itu, kata semantik dapat diartikan sebagai ilmu tentang makna atau tentang arti, yaitu salah satu dari tiga tataran analisis bahasa: fonologi, gramatika, dan semantik.[4]
B.     Hubungan Semantik dengan Disiplin Ilmu Lain
1.      Semantik dan Filsafat
Filsafat, sebagai studi tentang kearifan, pengetahuan, hakikat realitas maupun prinsip, memiliki hubungan sangat erat dengan semantik. Hal itu terjadi karena dunia fakta yang menjadi objek perenungan adalah dunia simbolik yang terwakili dalam bahasa. Sementara pada sisi lain, aktivitas berpikir itu sendiri tidak berlangsung tanpa adanya bahasa sebagai medianya. Dalam situasi tersebut, bahasa pada dasarnya juga bukan hanya sekedar media proses berpikir maupun menyampaikan hasil pikiran. Jadi pada akhirnya semantik sangat erat kaitannya dengan logika sebagai salah satu cabang filsafat yang mengkaji masalah berpikir secara benar.[5]
Filosof Bertrand Russel mengungkapkan bahwa ketepatan menyusun simbol kebahasaan secara logis merupakan dasar dalam memahami struktur realitas secara benar. Sebab itu kompleksitas simbol juga harus memiliki kesesuaian dengan kompleksitas realitas itu sendiri sehingga antara keduanya dapat berhubungan secara tepat dan benar (Alston, 1964:2). Bahasa sehari-hari yang biasa kita gunakan, bila dikaitkan dengan kegiatan filsafat mengandung kelemahan, antara lain:
1.      Vaguenes, karena makna yang terkandung dalam suatu bentuk kebahasaan pada dasarnya hanya mewakili relitas yang diacunya. Contoh: penjelasan secara verbal tentang aneka bunga mawar, tidak akan setepat dan sejelas dibandingkan dengan bersama-sama mengamati secara langsung aneka warna bunga mawar. 
2.      Ambiguity, berkaitan dengan ciri ketaksaan makna dari suatu bentuk kebahasaan. Misalnya; kata bunga, dapat berkaitan dengan “bunga mawar”, “Bungan melati”, bunga anggrek” maupun “gadis”.
3.      Inexplicitness, akibat lebih lanjut adanya kekaburan dan ketaksaan makna sehingga bahasa sering kali tidak mampu secara eksak, tepat dan menyeluruh mewujudkan gagasan yang dipersentasikannya.
4.      Context-dependent, pemakaian suatu bentuk sering kali berpindah-pindah maknanya sesuai dengan konteks gramatika, sosial, serta konteks situasional dalam pemakaiannya.
5.      Misleadingness, berhubungan dengan keberadaanya dalam komunikasi. Pernyataan seperti “Wah Ali sudah parah” misalnya, dapat saja dimaknai “Ali sakitnya sudah parah”, sementara yang dimaksud penutur mungkin, “nilai Ali sangat jelek”, “Ali sangat nakal dan sulit dinasehati”, hubungan Ali dengan Ani sudah sedemikian jauhnya”, serta sejumlah maksud lain dari isi pesannya.[6]
2.      Sematik dan Psikologi
Hubungan yang begitu erat antara bahasa dengan aspek kejiwaan manusia, salah satunya ditandai oleh kehadiran disiplin ilmu yang mengkaji linguistik dari sudut Psikologi, yang disebut dengan psikolinguistik. Psikologi ialah ilmu tentang kejiwaaan yang mengkaji hakikat dan gerak-gerik jiwa. Hal ini berarti setiap tingkah laku manusia mempunyai makna. Makna yang dimaksudkan adalah tentang kebermaknaan kata atau ujaran dalam bahasa.  Artinya bahasa yang dikeluarkan oleh seseorang itu menggambarkan keberadaan kondisi jiwanya karena ungkapan yang dikeluarkan itu melalui bahasa dan memunyai makna. Seorang psikolog menjelaskan makna yang menjadi objek semantik dengan salah satu cara, yakni menggunakan simbol, tanda, dan membicarakan sesuatu yang ditandai.[7]
Jhon Locke, mengungkapkan bahwa pemakaian kata-kata dapat diartikan sebagai penanda bentuk gagasan tertentu, karena bahasa juga menjadi instrumen pikiran yang mengacu pada suasana maupun realitas tertentu (Alston, 1964:22). Keberadaan kata-kata yang menjadi penanda bentuk gagasan itu tentunya bukan pada struktur bunyi atau bentuk penulisannya, melainkan pada makna. Kekuatan pengaruh psikologi dalam bidang semantik juga ditandai oleh adanya pengaruh sejumlah aliran dalam psikolog, misalnya behaviorisme, psikologi Gestalt field theory, kognitivisme maupun psikologi humanistik dalam kajian semantik.[8]
Pendekatan psikologi kognitif dalam pengkajian makna dapat dibedakan menjadi dua, yakni kelompok yang lebih banyah berorientasi pada teori psikologi kognitif dan kelompok yang lebih banyak berorientasi pada linguistik. Kelompok yang lebih banyak berorientasi pada linguistik beranggapan bahwa: (a) Pemahaman terhadap suatu bentuk kebahasaan ditentukan oleh pemahaman representasi semantis; (b) Pemahaman terhadap representasi semantis, pada sisi lain juga berperan dalam mengembangkan kemampuan mengolah proposisi; (c) Dalam komunikasi, kemampuan mengolah proposisi harus disertai kemampuan memilih kata serta menata struktur sintaktiknya; (d) Kemampuan seseorang dalam memahami ciri dan gambaran makna kata-kata atau fitur semantis suatu bentuk kebahasaan, sangat berperan dalam mengembangkan kemampuan memahami pesan.
Sementara itu, kelompok yang lebih banyak berorientasi pada psikologi atau aspek kejiwaan beranggapan bahwa (a) pemahaman makna ditentukan oleh pengetahuan seseorang tentang referen yang diacu serta konteks pemakaian bukan pada ingatan semantis atau struktur sintaktik, dan (b) penyimpulan makna kata dapat berbeda sesuai dengan konteks pemakaiannya.[9]
3.      Semantik dan Sosiologi Antropologi
Batas antara antropologi dan sosiologi sering kali kabur karena keduanya mengkaji masalah manusia dalam masyarakat. Namun, secara singkat perbedaannya dapat diamati dari dua hal, yaitu; Sosiologi adalah bidang ilmu yang mengkaji kelompok masyarakat yang lebih luas dalam perkembangan ekonomi dan sosial yang heterogen, sedangkan antropologi ialah bidang ilmu yang mengkaji sekelompok masyarakat tertentu yang homogen yang mempunyai berbagai ciri khasnya.[10]
Hubungan semantik dengan dua ilmu ini adalah setiap kata yang dihasilkan oleh penuturnya, akan menggambarkan makna bahasa dalam suatu kelompok masyarakat tertentu beserta budayanya. Hanya saja hubungan semantik dengan sosiologi mengarah pada kehidupan masyarakat sosial, sedangkan dengan ilmu antropologi mengacu pada makna bahasa melalui pilihan kata yang dipakai penuturnya itu menggambarkan kehidupan budaya penutur. Contoh: Penggunaan atau pemilihan kata ‘ngelih’ atau ‘lesu’ yang sama-sama berarti lapar yang mencerminkan sebuah budaya bagi penuturnya. Kata “ngelih” digunakan oleh masyarakat Yogyakarta dan Sedangkan kata ‘lesu’ adalah sebutan untuk lapar bagi masyarakat jawa timur khususnya daerah Jombang.[11]
4.      Semantik dan Kesusastraan
Sastra sebagai salah satu bentuk kreasi seni, menggunakan bahasa sebagai media pemaparnya. Akan tetapi, berbeda dengan bahasa yang digunakan sehari-hari, bahasa dalam karya sastra memiliki kekhasannya sendiri. Disebut demikian, karena bahasa dalam sastra merupakan salah satu bentuk idiosyncratic dimana tebaran kata yang digunakan merupakan hasil pengolahan dan ekspresi individeul pengarangnya (cf. Lyons, 1979:108).
Seperti halnya bahasa yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari, kode dalam sastra memiliki dua lapis, yakni (1) lapis bunyi atau bentuk dan (2) lapis makna. Adapun lapisan makna dalam kesusastraan terbagi menjadi empat bagian, yaitu; (a) unit makna literal, (b) dunia rekaan pengarang, (c) point of view atau sudut pandang pengarang, serta (d) lapis dunia atau pesan yang bersifat metafisis.
Peranan semantik sangat penting dalam kajian sastra terutama pada telaah makna gaya bahasa maupun latar proses kehadirannya. Oleh karena itu, untuk dapat memahami karya sastra secara sungguh-sungguh dan benar diperlukan pemahaman ilmu tentang makna, dalam hal ini adalah semantik sebagai bekal awal memahami teks sastra. Dengan demikian, fakta bahwa untuk memahami makna dalam karya sastra harus lebih terdahulu memahami makna bahasa. Seperti yang telah diungkapkan Syihabuddin (2011) bahwa struktur bahasa adalah pelayanan makna bahasa.[12]
5.      Semantik dan Linguistik
Sudah dibahas sebelumnya bahwa semantik merupakan salah satu cabang ilmu linguistik. Tentu antara semantik dengan cabang ilmu linguistik lainnya memiliki hubungan yang bisa dikatakan sangat dekat. Seseorang yang melakukan komunikasi dengan orang lainnya tentu memiliki makna yang ingin disampaikan dalam struktur bahasa yang diutarakan. Jadi, pemaknaan itu penting dalam berbahasa karena jika berbahasa tanpa makna sama saja dengan berbicara tanpa arah dan tujuan yang jelas. Penjelasan tentang hubungan semantik dengan cabang ilmu linguistik lainnya akan dibahas pada paragraf berikutnya.
Pada tataran cabang ilmu linguistik, cabang ilmu tingkat pertama adalah fonologi. Fonologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang bunyi bahasa. Dalam ilmu fonologi, bunyi bahasa itu dapat membedakan makna. Contoh perbedaan bunyi bahasa yang membedakan makna yaitu:
•   Kata apel yang bermakna buah dengan kata apel yang bermakna upacara.
• Kata perang yang bermakna pertempuran dengan kata perang yang bermakna merah kecoklatan atau kekuningan.
Makna yang berhubungan dengan ilmu fonologi ini lebih kepada makna yang muncul karena perbedaan bunyi pada beberapa kata yang berbeda dan perbedaan satu huruf saja pada sebuah kata yang mampu memunculkan makna baru.
 Cabang ilmu linguistik setelah fonologi adalah morfologi. Morfologi merupakan ilmu yang mengkaji tentang morfem atau kata. Kata yang sudah ditetapkan artinya dalam kamus tentu berbeda dengan kata yang sudah ditambahkan kata lain didepannya. Sebagai contoh perhatikan kata dasar dan rangkaian kata lain berikut.
•    kaki
•    kaki meja
•    kaki gunung
Dari ketiga contoh tersebut, contoh pertama dan kedua pasti kita ketahui maknanya meskipun membaca sepintas. Makna yang kita tangkap dari contoh kaki meja dan kaki gunung tentu berbeda dengan bentuk dasar kaki yang sudah memiliki arti tersendiri di dalam kamus. Penambahan-penambahan kata pada kata atau bentuk dasar dapat mempengaruhi makna dari bentuk dasar itu sendiri.
Cabang ilmu linguistik setelah morfologi adalah sintaksis. Menurut Rostina Taib (2012:5) Sintaksis merupakan ilmu yang mengkaji hubungan antar kata dalam kalimat. Ruang lingkup yang dipelajari tidak hanya kalimat tetapi juga frasa dan klausa. Dalam membuat kalimat yang sekurang-kurangnya harus terdiri atas unsur subjek dan predikat juga harus memiliki makna yang padu. Pateda (2001:12) menyatakan bahwa kalimat yang digunakan oleh manusia untuk berkomunikasi merupakan kalimat yang bermakna dan masuk akal bagi pembaca atau pendengar. Sebagai contoh:
•    katak yang berlari mengejar musang
•    wahyu memakan batu-bata
Dari kedua contoh kalimat tersebut, memang secara struktur kalimat dapat dikatakan benar tetapi makna yang dimiliki kalimat ini tidak benar karena tidak logis. Pada kalimat pertama, ketidaklogisan terdapat pada katak yang berlari karena pada kenyataannya katak tidak dapat berlari tetapi hanya dapat melompat. Jadi tidak masuk akal jika katak itu berlari. Pada kalimat kedua, ketidaklogisan terdapat pada subjek wahyu yang seorang manusia makan batu. Tidak logis jika manusia makan batu selapar apapun orang itu. Intinya, kalimat tidak hanya harus benar sesuai struktur tetapi juga harus sinkron antara makna dan kenyataan.[13]












DAFTAR PUSTAKA
Adriana, Iswah. Pengantar Linguistik.
Aminuddin, Semantik. Bandung: Sinar Baru Algesindo, 2008.
Chaer, Abdul. Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta, 2013.
Sumarti. Semantik. Yogyakarta: Textium, 2017.
https://kumpulanartikel.blogspot.com.Hubungan Semantik dengan Ilmu lain, diakses pada tanggal 10 Maret 2019 pukul 21:04.
https://id.wikipedia.org/wiki/Hubungan Semantik dengan Ilmu Lain, diakses pada tanggal 10 Maret 2019 pukul 20:31.













[1] Abdul Chaer, Pengantar Semantik Bahasa Indonesia (Jakarta: Rineka Cipta, 2013), hlm. 2
[2] Iswah Adriana, Pengantar Linguistik, hlm. 55
[3] Aminuddin, Semantik (Bandung: Sinar Baru Algesindo, 2008), hlm. 15
[4] Chaer, Pengantar Semantik, hlm.2
[5] Sumarti, Semantik (Yogyakarta: Textium, 2017), hlm. 2
[6] Aminuddin, Semantik (Bandung: Sinar Baru Algesindo, 2008), hlm. 19-20
[7] Sumarti, Semantik, hlm. 3
[8] Ibid, hlm. 3
[9] Aminuddin, Semantik (Bandung: Sinar Baru Algesindo, 2008), hlm. 22-23
[10] Ibid, hlm. 24
[11] https://id.wikipedia.org/wiki/Hubungan Semantik dengan Ilmu Lain, diakses pada tanggal 10 Maret 2019 pukul 20:31.
[12] Sumarti, Semantik (Yogyakarta: Textium, 2017), hlm. 4-5
[13] https://kumpulanartikel.blogspot.com.Hubungan Semantik dengan Ilmu lain, diakses pada tanggal 10 Maret 2019 pukul 21:04.