PENGERTIAN DAN HUBUNGAN SEMANTIK
DENGAN DISIPLIN ILMU LAIN
RESUME
Disusun
untuk memenuhi tugas mata kuliah Semantik
Yang diampu oleh Ibu
Masyithah Maghfirah Rizam, SS, M. P.D
Oleh:
Nur Hayati
(20170701072080)
PROGRAM STUDI TADRIS BAHASA INDONESIA
JURUSAN TARBIYAH
INSTITUT
AGAMA ISLAM NEGERI MADURA
Pengertian dan Hubungan Semantik dengan Disiplin Ilmu Lain
A.
Pengertian Semantik
Kata semantik
dalam bahasa Indonesia (Inggris: semantics) berasal dari bahasa Yunani sema (kata
benda yang berarti “tanda” atau “lambang”). Kata kerjanya adalah semaino
yang berarti “menandai” atau “melambangkan”. Yang dimaksud dengan tanda atau
lambang di sini sebagai padanan kata sema itu adalah tanda linguistik (Prancis:
signe linguistic).[1] Seperti
yang dikemukakan oleh Ferdinand de Saussure (1996), yaitu yang terdiri dari dua
komponen yaitu: (1) komponen signifikan
“yang mengartikan”, yang berwujud bentuk-bentuk bunyi bahasa dan (2) komponen
signifie “yang diartikan”, yang wujudnya berupa pengertian atau konsep (yang
dimiliki oleh signifikan. Umpamanya tanda linguistik berupa <meja>,
terdiri dari komponen signifikan, yakni berupa runtutan fonem /m/, /e/, /j/,
/a/; dan komponen signiefinya berupa konsep atau makna ‘sejenis perabot kantor
dan rumah tangga’.[2]
Istilah
semantik juga mengandung makna to signify yang berarti “memaknai”.
Sebagai istilah, semantik mengandung pengertian studi atau kajian tentang makna
bahasa. Dengan demikian, semantik merupakan bagian dari linguistik. Seperti
halnya bunyi dan tata bahasa, komponen makna dalam hal ini menduduki tingkatan
pertama, tata bahasa pada tingkatan kedua, maka komponen makna menduduki
tingkat paling akhir. Hubungan ketiga komponen ini sesuai dengan kenyataan
bahwa (a) bahasa pada awalnya merupakan bunyi-bunyi abstrak yang mengacu pada
adanya lambang-lambang tertentu, (b) lambang-lambang merupakan seperangkat
sistem yang memiliki tataran dan hubungan tertentu, dan (c) seperangkat lambang
yang memiliki bentuk dan hubungan itu mengasosiasikan adanya makna tertentu.[3]
Kata semantik
ini kemudian disepakati sebagai istilah yang digunakan untuk bidang linguistik
yang mempelajari hubuungan antara tanda-tanda linguistik dengan hal-hal yang
ditandainya. Atau dengan kata lain, bidang studi dalam linguistik yang
mempelajari makna atau arti dalam bahasa. Oleh karena itu, kata semantik dapat
diartikan sebagai ilmu tentang makna atau tentang arti, yaitu salah satu dari
tiga tataran analisis bahasa: fonologi, gramatika, dan semantik.[4]
B.
Hubungan Semantik dengan Disiplin Ilmu Lain
1.
Semantik dan Filsafat
Filsafat, sebagai studi tentang kearifan, pengetahuan, hakikat
realitas maupun prinsip, memiliki hubungan sangat erat dengan semantik. Hal itu
terjadi karena dunia fakta yang menjadi objek perenungan adalah dunia simbolik
yang terwakili dalam bahasa. Sementara pada sisi lain, aktivitas berpikir itu
sendiri tidak berlangsung tanpa adanya bahasa sebagai medianya. Dalam situasi
tersebut, bahasa pada dasarnya juga bukan hanya sekedar media proses berpikir
maupun menyampaikan hasil pikiran. Jadi pada akhirnya semantik sangat erat
kaitannya dengan logika sebagai salah satu cabang filsafat yang mengkaji
masalah berpikir secara benar.[5]
Filosof Bertrand Russel mengungkapkan bahwa ketepatan menyusun
simbol kebahasaan secara logis merupakan dasar dalam memahami struktur realitas
secara benar. Sebab itu kompleksitas simbol juga harus memiliki kesesuaian
dengan kompleksitas realitas itu sendiri sehingga antara keduanya dapat
berhubungan secara tepat dan benar (Alston, 1964:2). Bahasa sehari-hari yang
biasa kita gunakan, bila dikaitkan dengan kegiatan filsafat mengandung
kelemahan, antara lain:
1.
Vaguenes, karena makna yang terkandung dalam suatu bentuk
kebahasaan pada dasarnya hanya mewakili relitas yang diacunya. Contoh:
penjelasan secara verbal tentang aneka bunga mawar, tidak akan setepat dan
sejelas dibandingkan dengan bersama-sama mengamati secara langsung aneka warna
bunga mawar.
2.
Ambiguity, berkaitan dengan ciri ketaksaan makna dari suatu bentuk
kebahasaan. Misalnya; kata bunga, dapat berkaitan dengan “bunga mawar”, “Bungan
melati”, bunga anggrek” maupun “gadis”.
3.
Inexplicitness, akibat lebih lanjut adanya kekaburan dan ketaksaan
makna sehingga bahasa sering kali tidak mampu secara eksak, tepat dan
menyeluruh mewujudkan gagasan yang dipersentasikannya.
4.
Context-dependent, pemakaian suatu bentuk sering kali
berpindah-pindah maknanya sesuai dengan konteks gramatika, sosial, serta
konteks situasional dalam pemakaiannya.
5.
Misleadingness, berhubungan dengan keberadaanya dalam komunikasi.
Pernyataan seperti “Wah Ali sudah parah” misalnya, dapat saja dimaknai
“Ali sakitnya sudah parah”, sementara yang dimaksud penutur mungkin, “nilai Ali
sangat jelek”, “Ali sangat nakal dan sulit dinasehati”, hubungan Ali dengan Ani
sudah sedemikian jauhnya”, serta sejumlah maksud lain dari isi pesannya.[6]
2.
Sematik dan Psikologi
Hubungan yang begitu erat antara bahasa dengan aspek kejiwaan
manusia, salah satunya ditandai oleh kehadiran disiplin ilmu yang mengkaji
linguistik dari sudut Psikologi, yang disebut dengan psikolinguistik. Psikologi
ialah ilmu tentang kejiwaaan yang mengkaji hakikat dan gerak-gerik jiwa. Hal
ini berarti setiap tingkah laku manusia mempunyai makna. Makna yang dimaksudkan
adalah tentang kebermaknaan kata atau ujaran dalam bahasa. Artinya bahasa yang dikeluarkan oleh seseorang
itu menggambarkan keberadaan kondisi jiwanya karena ungkapan yang dikeluarkan
itu melalui bahasa dan memunyai makna. Seorang psikolog menjelaskan makna yang
menjadi objek semantik dengan salah satu cara, yakni menggunakan simbol, tanda,
dan membicarakan sesuatu yang ditandai.[7]
Jhon Locke, mengungkapkan bahwa pemakaian kata-kata dapat diartikan
sebagai penanda bentuk gagasan tertentu, karena bahasa juga menjadi instrumen
pikiran yang mengacu pada suasana maupun realitas tertentu (Alston, 1964:22).
Keberadaan kata-kata yang menjadi penanda bentuk gagasan itu tentunya bukan
pada struktur bunyi atau bentuk penulisannya, melainkan pada makna. Kekuatan
pengaruh psikologi dalam bidang semantik juga ditandai oleh adanya pengaruh
sejumlah aliran dalam psikolog, misalnya behaviorisme, psikologi Gestalt field
theory, kognitivisme maupun psikologi humanistik dalam kajian semantik.[8]
Pendekatan psikologi kognitif dalam pengkajian makna dapat
dibedakan menjadi dua, yakni kelompok yang lebih banyah berorientasi pada teori
psikologi kognitif dan kelompok yang lebih banyak berorientasi pada linguistik.
Kelompok yang lebih banyak berorientasi pada linguistik beranggapan bahwa: (a)
Pemahaman terhadap suatu bentuk kebahasaan ditentukan oleh pemahaman
representasi semantis; (b) Pemahaman terhadap representasi semantis, pada sisi
lain juga berperan dalam mengembangkan kemampuan mengolah proposisi; (c) Dalam
komunikasi, kemampuan mengolah proposisi harus disertai kemampuan memilih kata
serta menata struktur sintaktiknya; (d) Kemampuan seseorang dalam memahami ciri
dan gambaran makna kata-kata atau fitur semantis suatu bentuk kebahasaan,
sangat berperan dalam mengembangkan kemampuan memahami pesan.
Sementara itu, kelompok yang lebih banyak berorientasi pada
psikologi atau aspek kejiwaan beranggapan bahwa (a) pemahaman makna ditentukan
oleh pengetahuan seseorang tentang referen yang diacu serta konteks pemakaian
bukan pada ingatan semantis atau struktur sintaktik, dan (b) penyimpulan makna kata
dapat berbeda sesuai dengan konteks pemakaiannya.[9]
3.
Semantik dan Sosiologi Antropologi
Batas antara antropologi dan sosiologi sering kali kabur karena
keduanya mengkaji masalah manusia dalam masyarakat. Namun, secara singkat
perbedaannya dapat diamati dari dua hal, yaitu; Sosiologi adalah bidang ilmu
yang mengkaji kelompok masyarakat yang lebih luas dalam perkembangan ekonomi
dan sosial yang heterogen, sedangkan antropologi ialah bidang ilmu yang
mengkaji sekelompok masyarakat tertentu yang homogen yang mempunyai berbagai
ciri khasnya.[10]
Hubungan semantik dengan dua ilmu ini adalah setiap kata yang
dihasilkan oleh penuturnya, akan menggambarkan makna bahasa dalam suatu
kelompok masyarakat tertentu beserta budayanya. Hanya saja hubungan semantik
dengan sosiologi mengarah pada kehidupan masyarakat sosial, sedangkan dengan
ilmu antropologi mengacu pada makna bahasa melalui pilihan kata yang dipakai
penuturnya itu menggambarkan kehidupan budaya penutur. Contoh: Penggunaan atau
pemilihan kata ‘ngelih’ atau ‘lesu’ yang sama-sama berarti lapar yang
mencerminkan sebuah budaya bagi penuturnya. Kata “ngelih” digunakan oleh
masyarakat Yogyakarta dan Sedangkan kata ‘lesu’ adalah sebutan untuk lapar bagi
masyarakat jawa timur khususnya daerah Jombang.[11]
4.
Semantik dan Kesusastraan
Sastra sebagai salah satu bentuk kreasi seni, menggunakan bahasa
sebagai media pemaparnya. Akan tetapi, berbeda dengan bahasa yang digunakan
sehari-hari, bahasa dalam karya sastra memiliki kekhasannya sendiri. Disebut
demikian, karena bahasa dalam sastra merupakan salah satu bentuk idiosyncratic
dimana tebaran kata yang digunakan merupakan hasil pengolahan dan ekspresi
individeul pengarangnya (cf. Lyons, 1979:108).
Seperti halnya bahasa yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari,
kode dalam sastra memiliki dua lapis, yakni (1) lapis bunyi atau bentuk dan (2)
lapis makna. Adapun lapisan makna dalam kesusastraan terbagi menjadi empat
bagian, yaitu; (a) unit makna literal, (b) dunia rekaan pengarang, (c) point of
view atau sudut pandang pengarang, serta (d) lapis dunia atau pesan yang
bersifat metafisis.
Peranan semantik sangat penting dalam kajian sastra terutama pada
telaah makna gaya bahasa maupun latar proses kehadirannya. Oleh karena itu,
untuk dapat memahami karya sastra secara sungguh-sungguh dan benar diperlukan
pemahaman ilmu tentang makna, dalam hal ini adalah semantik sebagai bekal awal
memahami teks sastra. Dengan demikian, fakta bahwa untuk memahami makna dalam
karya sastra harus lebih terdahulu memahami makna bahasa. Seperti yang telah diungkapkan
Syihabuddin (2011) bahwa struktur bahasa adalah pelayanan makna bahasa.[12]
5.
Semantik dan Linguistik
Sudah dibahas sebelumnya bahwa semantik merupakan salah satu cabang
ilmu linguistik. Tentu antara semantik dengan cabang ilmu linguistik lainnya
memiliki hubungan yang bisa dikatakan sangat dekat. Seseorang yang melakukan
komunikasi dengan orang lainnya tentu memiliki makna yang ingin disampaikan
dalam struktur bahasa yang diutarakan. Jadi, pemaknaan itu penting dalam
berbahasa karena jika berbahasa tanpa makna sama saja dengan berbicara tanpa
arah dan tujuan yang jelas. Penjelasan tentang hubungan semantik dengan cabang
ilmu linguistik lainnya akan dibahas pada paragraf berikutnya.
Pada tataran cabang ilmu linguistik, cabang ilmu tingkat pertama
adalah fonologi. Fonologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang bunyi bahasa.
Dalam ilmu fonologi, bunyi bahasa itu dapat membedakan makna. Contoh perbedaan
bunyi bahasa yang membedakan makna yaitu:
• Kata apel yang bermakna buah dengan kata
apel yang bermakna upacara.
• Kata
perang yang bermakna pertempuran dengan kata perang yang bermakna merah
kecoklatan atau kekuningan.
Makna yang berhubungan dengan ilmu fonologi ini lebih kepada makna
yang muncul karena perbedaan bunyi pada beberapa kata yang berbeda dan
perbedaan satu huruf saja pada sebuah kata yang mampu memunculkan makna baru.
Cabang ilmu linguistik
setelah fonologi adalah morfologi. Morfologi merupakan ilmu yang mengkaji
tentang morfem atau kata. Kata yang sudah ditetapkan artinya dalam kamus tentu
berbeda dengan kata yang sudah ditambahkan kata lain didepannya. Sebagai contoh
perhatikan kata dasar dan rangkaian kata lain berikut.
• kaki
• kaki meja
• kaki gunung
Dari ketiga contoh tersebut, contoh pertama dan kedua pasti kita
ketahui maknanya meskipun membaca sepintas. Makna yang kita tangkap dari contoh
kaki meja dan kaki gunung tentu berbeda dengan bentuk dasar kaki yang sudah
memiliki arti tersendiri di dalam kamus. Penambahan-penambahan kata pada kata
atau bentuk dasar dapat mempengaruhi makna dari bentuk dasar itu sendiri.
Cabang ilmu linguistik setelah morfologi adalah sintaksis. Menurut
Rostina Taib (2012:5) Sintaksis merupakan ilmu yang mengkaji hubungan antar
kata dalam kalimat. Ruang lingkup yang dipelajari tidak hanya kalimat tetapi
juga frasa dan klausa. Dalam membuat kalimat yang sekurang-kurangnya harus
terdiri atas unsur subjek dan predikat juga harus memiliki makna yang padu.
Pateda (2001:12) menyatakan bahwa kalimat yang digunakan oleh manusia untuk
berkomunikasi merupakan kalimat yang bermakna dan masuk akal bagi pembaca atau
pendengar. Sebagai contoh:
• katak yang berlari mengejar musang
• wahyu memakan batu-bata
Dari kedua contoh kalimat tersebut, memang secara struktur kalimat
dapat dikatakan benar tetapi makna yang dimiliki kalimat ini tidak benar karena
tidak logis. Pada kalimat pertama, ketidaklogisan terdapat pada katak yang
berlari karena pada kenyataannya katak tidak dapat berlari tetapi hanya dapat
melompat. Jadi tidak masuk akal jika katak itu berlari. Pada kalimat kedua,
ketidaklogisan terdapat pada subjek wahyu yang seorang manusia makan batu.
Tidak logis jika manusia makan batu selapar apapun orang itu. Intinya, kalimat
tidak hanya harus benar sesuai struktur tetapi juga harus sinkron antara makna dan
kenyataan.[13]
DAFTAR PUSTAKA
Adriana, Iswah. Pengantar Linguistik.
Aminuddin, Semantik. Bandung: Sinar Baru Algesindo, 2008.
Chaer, Abdul. Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. Jakarta:
Rineka Cipta, 2013.
Sumarti. Semantik.
Yogyakarta: Textium, 2017.
https://kumpulanartikel.blogspot.com.Hubungan Semantik dengan Ilmu lain, diakses pada tanggal 10 Maret 2019 pukul 21:04.
https://id.wikipedia.org/wiki/Hubungan
Semantik dengan Ilmu Lain, diakses
pada tanggal 10 Maret 2019 pukul 20:31.
[1] Abdul Chaer, Pengantar Semantik Bahasa Indonesia (Jakarta:
Rineka Cipta, 2013), hlm. 2
[2] Iswah Adriana, Pengantar Linguistik, hlm. 55
[3] Aminuddin, Semantik (Bandung: Sinar Baru Algesindo, 2008),
hlm. 15
[4] Chaer, Pengantar Semantik, hlm.2
[5] Sumarti, Semantik (Yogyakarta: Textium, 2017), hlm. 2
[6] Aminuddin, Semantik (Bandung: Sinar Baru Algesindo, 2008),
hlm. 19-20
[7] Sumarti, Semantik, hlm. 3
[8] Ibid, hlm. 3
[9] Aminuddin, Semantik (Bandung: Sinar Baru Algesindo, 2008),
hlm. 22-23
[10] Ibid, hlm. 24
[11] https://id.wikipedia.org/wiki/Hubungan
Semantik dengan Ilmu Lain, diakses pada tanggal 10 Maret 2019 pukul
20:31.
[12] Sumarti, Semantik (Yogyakarta: Textium, 2017), hlm. 4-5
[13] https://kumpulanartikel.blogspot.com.Hubungan Semantik dengan Ilmu lain,
diakses pada tanggal 10 Maret 2019 pukul 21:04.